BAB I
PENDAHULUAN
Upaya
membangun keefektifan pemimpin terletak semata pada pembekalan dimensi
keterampilan teknis dan keterampilan konseptual. Adapun keterampilan personal
menjadi terpinggirkan. Padahal sejatinya efektifitas kegiatan manajerial dan
pengaruhnya pada kinerja organisasi, sangat bergantung pada kepekaan pimpinan
untuk menggunakan keterampilan personalnya. Keterampilan personal tersebut
meliputi kemampuan untuk memahami perilaku individu dan perilaku kelompok dalam
kontribusinya membentuk dinamika organisasi, kemampuan melakukan modifikasi
perilaku, kemampuan memahami dan memberi motivasi, kemampuan memahami proses
persepsi dan pembentukan komunikasi yang efektif, kemampuan memahami relasi
antar konsep kepemimpinan-kekuasaan-politik dalam organisasi, kemampuan
memahami genealogi konflik dan negosiasinya, serta kemampuan mengkonstruksikan
budaya organisasi yang ideal.
Upaya
membangun keterampilan personal tersebut selaras dengan perkembagan kekinian
rumpun kajian Organizational Studies (Teori Organisasi, Perilaku Organisasi,
Manajemen SDM, dan Kepemimpinan), yang menemukan kontekstualisasinya dalam
semangat pendekatan human relations. Organisasi birokrasi publik pun idealnya
tidak terlepas dari arah perkembangan ini. Dalam hal ini, paradigma organisasi
birokratik-weberian yang berkarakter (terlalu) impersonal dan dingin,
mendapatkan tantangan serius dari paradigma post-birokrasi yang lebih humanis
Kreativitas
penting bagi pengambil keputusan, hal ini memungkinkan pengambil keputusan
untuk lebih sepenuhnya menghargai dan memahami masalah, termasuk melihat
masalah-masalah yang tidak dapat dilihat orang lain, namum kenyataannya banyak
pemimpin dalam pengambilan keputusan tidak memperhatikan perilaku pemimpin yang
sebaiknya.
Makalah
ini penulis angkat dengan judul “Pengambilan Keputusan dalam Perilaku
Organisasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakekat Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan
adalah tindakan pemilihan alternatif. Hal ini berkaian dengan fungsi
manajemen.. Misalnya, saat manajer merencanakan, mengelola, mengontrol, mereka
membuat keputusan. Akan tetapi, ahli teori klasik tidak menjelaskan peng
keputusan tersebut secara umum. Pelopor teori manajemen seperti Fayol dan
Urwick membahas pengambilan keputusan mengenai pengaruhnya pada delegasi dan
otoritas, sementara bapak manajemen-Frederick W. Taylor-
hanya menyinggung metode ilmiah sebagai pendekatan untuk pengambilan keputusan.
Seperti kebanyakan aspek teori organisasi modern, analisis awal pengambilan
keputusan dapat ditelusuri pada Chester Barnard. Dalam The Functions of the Exec Barnard
memberikan analisis komprehensif mengenai pengambilan keputusan clan menyat
"Proses keputusan ... merupakan teknik untuk mempersempit pilihan."
Kebanyakan
pembahasan proses pengambilan keputusan terbagi dalam beberapa langkah. Hal ini dapat ditelusuri dari ide yang
dikembangkan Herbert A. Simon, ahli teori kepufusan dan organisasi yang
memenangkan hadiah Nobel, yang mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses,
pengambilan keputusan:
l. Aktivitas inteligensi. Berasal
dari pengertian militer "intelligence," Simon mendeskripsikan tahap
awal ini sebagai penelusuran kondisi lingkungan yang memerlukan pengambilan
keputusan.
2. Aktivitas
desain. Selama tahap kedua, mungkin terjadi tindakan penemuan,
pengembangan, dan analisis masalah.
3. Aktivitas
memilih. Tahap ketiga dan terakhir ini merupakan pilihan
sebenarnya-memilih tindakan tertentu dari yang tersedia
Berhubungan dengan tahap-tahap tersebut,
tetapi lebih empiris (yaitu, menelusuri keputwq sebenarnya dalam organisasi),
adalah langkah pengambilan keputusan menurut Mintzberg a koleganya:
1. Tahap identifikasi, di mana
pengenalan masalah atau kesempatan muncul dan diagnosis dibuat Diketahui bahwa masalah
yang berat mendapatkan diagnosis yang ekstensif dan sistematis, tep masalah
yang sederhana tidak.
2. Tahap pengembangan, di mana
terdapat pencarian prosedur
atau solusi standar yang ada as mendesain solusi yang baru. Diketahui
bahwa proses desain merupakan proses pencarian d percobaan di mana pembuat
keputusan hanya mempunyai ide solusi ideal yang tidak jelas.
3. Tahap seleksi, di
mana pilihan solusi dibuat. Ada tiga cara pembentukan seleksi: dengan penilainn
pembuat keputusan, berdasarkan pengalaman atau intuisi, bukan analisis
logis; dengan analisis alternatif yang logis dan sistematis; dan dengan tnwar-menawar
saat seleksi melibatkan kelompok pembuat keputusan dan semua manuver
politik yang ada. Sekali keputusan diterima secara formal, otorisasi pun
kemudian dibuat.
( gambar 1 )
Gambar 1. Tahap
Pengambilan Keputusan dalam Organisasi Menurut Mintzberg
Gambar 1 merangkum
tahap pengambilan keputusan berdasarkan penelitian Mintzberg. Baik terekspresi
dalam tahap Simon maupun Mintzberg, terdapat langkah awal yang dapat
diidentifikasi yang menghasilkan aktivitas pemilihan dalam pengambilan
keputusan. Perlu dicatat bahwa pengambilan keputusan merupakan proses dinamis,
terdapat banyak celah berupa umpan balik dalam setiap tahap. "Celah umpan
balik dapat disebabkan oleh masalah waktu, politik, ketidaksetujuan
antarmanajer, ketidakmampuan untuk mengidentifikasi alternatif yang tepat atau
mengimplementasikan solusi, pergantian manajer, atau munculnya alternatif baru
secara tiba-tiba. Yang penting adalah pengambilan keputusan merupakan proses
dinamis. Proses dinamis ini mempunyai implikasi perilaku dan strategis pada
organisasi. Penelitian empiris terbaru mengindikasikan bahwa proses keputusan
yang mencakup pembuatan pilihan strategis menghasilkan keputusan yang baik
dalam organisasi 6 tetapi masih terdapat banyak masalah, yakni manajer mengambil
keputusan yang salah.' Kembali ke peranan dominan yang dimainkan teknologi
informasi dalam analisis dan praktik pengambilan keputusan yang efektif,e
relevansi studi dan aplikasi perilaku organisasi ini adalah apa yang disebut
perilaku pengambilan keputusan.
B. Perilaku Pengambilan Keputusan
Perilaku pengambilan keputusan berkaitan
dengan ahli teori perilaku organisasi seperti dalam buku March dan Simon, Organization,
pada tahun 1958, tetapi bidang tersebut menjadi lebih menarik dengan topik
seperti motivasi dan tujuannya, dan menekankan berkurangnya pengambilan
keputusan. Bidang :perilaku pengambilan keputusn dikembangkan di luar jalur
teori dan penelitian perilaku organisasi oleh psikolog kognitif dan ahli teori
keputusan dalam ilmu ekonomi dan informasi. Akan tetapi, barubaru ini muncul
kembali minat mengenai perilaku pengambilan keputusan, dan kembali ke jalur
bidang perilaku organisasi.
Meskipun teori pengambilan keputusan
klasik berjalan dalam asumsi rasionalitas dan kepastian, tetapi tidak begitu
halnya dengan teori keputusan perilaku. Ahli teori perilaku pengambilan
keputusan sependapat bahwa individu mempunyai keterbatasan kognitif.
Kompleksitas organisasi dan dunia secara umum menyebabkan individu bertindak
dalam situasi ketidakpastian dan informasi begitu arnbigu dan tidak
lengkap." Kadang-kadang risiko dan ketidakpastian ini menyebabkan pembuat kepuhisan
organisasi mempunyai keputusan yang diragukan, atau tidak etis (lihat Contoh
Aplikasi OB: Wengikuti Persaingan atau Tersingkir?) Dikarenakan ketidakpastian
dan ambiguitas, sejumlah model pengambilan keputusan telah ada selama
bertahun-tahun. Dasar dan titik awal untuk mengembangkan menganalisis berbagai
model perilaku pengambilan keputusan adalah tetap mempertahankan tingkat dan
arti rasionalitas.
C. Rasionalisasi
Keputusan
Definisi
Rasionalisasi yang paling sering digunakan dalam pengambilan
keputusan adalah bahwa hal tersebut merupakan rencana tujuan. Jika sebuah
rencana dipilih untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka keputusan dikatakan
rasional, tetapi, terdapat banyak komplikasi untuk tes rasionalitas yang
sederhana. Pada awalnya, sulit untuk memisahkan rencana dari tujuan karena yang
nyata mungkin hanya merupakan rencana untuk tujuan di masa depan. Ide ini
umumnya disebut rangkaian atau hierarki
rencana-tujuan. Simon menunjukkan bahwa "hierarki
rencana-tujuan. merupakan rangkaian yang jarang terhubung dan terintegrasi
sepenuhnya. Hubungan antara aktivitas organisasi dan tujuan akhir kerap kali
tidak jelas, atau tujuan akhir tidak sepenuhnya dirumuskan, atau terdapat
konflik internal dan kontradiksi antara tujuan akhir, atau antara rencana yang
dipilih untuk mempertahankan tujuan.
Selain komplikasi yang berhubungan dengan
rangkaian rencana-tujuan, ada kemungkinan konsep tersbut tidak terpakai.
Pengambilan keputusan yang relevan dengan ekonomi nasional mendukung posisi
ini. Pembuat keputusan yang mencari penyesuaian rasional dalam sistem ekonomi
mungkin menghasilkan hasil akhir yang tidak diinginkan atau yang tidak dapat
diantisipasi. Simon juga memperingatkan bahwa analisis rencana-tujuan yang
sederhana mungkin menghasilkan kesimpulan yang tidak akurat.
Salah satu cara untuk mengklarifikasi
rasionalitas rencana-tujuan adalah menggunakan keteraagan tambahan yang tepat
dan berkualitas pada berbagai jenis rasionalitas. Hal tersebut menunjukkan rasionalalisasi
objektif dapat diterapkan pada
keputusan yang memaksimalkan nilai dalam situasi tertentu. Rasionalisasi subjektif dapat digunakan jika keputusan
memaksimalkan hasil dalam kaitannya dengan
pengetahuan subjek tertentu. Rasionalitas dengan
sengaja dapat diterapkan pada keputusan di maana penyesuaian rencana
untuk tujuan merupakan proses dengan sengaja. Keputusan dianggap rasional saat
penyesuaian rencana pada tujuan dicari oleh individu atau organisasi; keputusan
dianggap rasional secara organisasi jika dimaksudkan untuk tujuan organisasi;
dan keputusan dianggap rasional secara personal jika diarahkan pada tujuan
pribadi.
D. Model Perilaku Pengambilan Keputusan
Terdapat banyak model deskriptif dari
perilaku pengambilan keputusan. Akibatnya, hal ini menjadi model untuk banyak
perilaku pengambilan keputusan manajemen. Model berusaha mendeskripsikan secara
teoritis dan realistis bagaimana manajer praktik mengambil keputusan. Secara
khusus, model berupaya menentukan seberapa rasional pembuat keputusan
manajemen. Model berkisar dari rasionalitas lengkap, seperti dalam kasus model rasionalitas ekonomi klasik, sampai
sepenuhnya tidak rasional, seperti dalam kasus model sosial
1. Model
Rasionalitas Ekonomi
Model ini berasal dari model ekonomi
klasik di mana pembuat keputusan sepenuhnya rasional daam, segala hal.
Berkaitan dengan aktivitas pengambilan keputusan, terdapat asumsi:
a. Keputusan
akan sepenuhnya rasional dalam hal rencana-tujuan.
b. Terdapat sistem pilihan yang lengkap dan
konsisten yang memungkinkan pemilihan alternatif
c. Kesadaran penuh terhadap semua kemungkinan alternatif.
d. Tidak ada batasan pada kompleksitas komputasi yang dapat
ditampilkan untuk menentukan alternatif terbaik.
e. Probabilitas kalkulasi tidak menakutkan ataupun misterius.
Model rasionalitas ekonomi pembuat
keputusan selalu berusaha memaksimalkan hasil dalam perusahaan bisnis, dan
keputusan akan diarahkan kepada titik p maksimum di mana biaya marjinal sama
dengan pendapatan marjinal (MC = MR).
Banyak ekonom dan ahli teori keputusan kuantitatif tidak
menyatakan bahwa gambaran ini merupakan model perilaku pengambilan keputusan
modern yang deskriptif dan realistis. tetapi banyak sekolah bisnis mengajarkan
model rasional dan metode kuantitatif, karena itu banyak manajer masih
menyamakan pengambilan keputusan manajemen yang "baik" dengan
pendekatan tersebut. Akan tetapi, kesetiaan pada pendekatan ini bisa berbahaya
dan mungkin menyebabkan banyak masalah. Seperti dinyatakan oleh Peters dan
Waterman dalam buku In Search of
Excellence: "Pendekatan alterratif dan rasional pada manajemen
mendominasi sekolah bisnis. Pendekatan tersebut mencari pembenaran yang
terpisah dan analitis untuk semua keputusan. Hal ini bisa saja salah dan
membuat kita sangat tersesat.”
Secara jelas, Peters dan Waterman tidak mengatakan
"buang yang buruk," dan tidak mengki model rasional. Model rasional
telah terbentuk dan akan terus memberi kontribusi signifikan un pengambilan
keputusan yang efektif. Misalnya, tenaga pemasaran yang paling sukses, seperti
Pro & Gamble, Cheesebrough-Pond's, dan Ore-Ida, terkenal dengan pendekatan
rasional mereka , menggunakan dukungan kuantitatif. Inti yang dicapai Peters
dan Waterman adalah bahwa mc rasional bukan menjadi akhir pengambilan keputusan
secara efektif dan jika terdapat perbedaan, tersebut menyebabkan kesalahpahaman
dan mengganggu proses pengambilan keputusan.
2. Teknik
Rasional Modern: ABC, EVA, dan MVA
Baru-baru ini, teknik akuntansi dan
finansial tradisional yang berdasarkan model rasionalitas ekonomi telah
mengalami perubahan radikal. Misalnya, perusahaan terkenal seperti
Daimler-Chrysler, Union Carbide, Hewlett-Packard, dan General Electric telah
beralih ke jenis akuntansi yang baru. Untuk mengelola biaya dengan lebih baik,
mereka menggunakan activity-based costing, atau disebut ABC. Secara
tradisional, akuntansi mengidentifikasi biaya menurut kategori pengeluaran
(misalnya, gaji, suplai, dan biaya tetap). Sebaliknya, ABC menentukan biaya menurut
apa yang dibayar untuk tugas berbeda yang dikerjakan karyawan. Dalam ABC, biaya
yang berhubungan dengan aktivitas seperti memproses pesanan penjualan,
mempercepat pesanan pemasok dan atau pelanggan, memecahkan masalah kualitas
pemasok dan atau masalah pengantaran, dan memperlengkapi mesin, dihitung.
Metode ABC dan tradisional mencapai biaya yang sama, tetapi ABC memberi pembuat
keputusan rincian data biaya yang jauh lebih akurat. Misalnya, B2B (bisnis
untuk bisnas menggunakan internet ternyata mengurangi akuisisi dan distribusi
biaya perusahaan yang diidentifikasi, dan di Hewlet Packard, saat ABC
menunjukkan bahwa pengujian desain dan bagian baru sangat mahal, maka tehnisi segera
mengubah rencana pada komponen yang memerlukan sedikit pengujian, dengan
demikian sangat memperkecil biaya.
Contoh pemikiran rasionalitas ekonomi
tradisional yang digunakan oleh pembuat keputusan manajemen adalah teknik
finansial economic value added, atau EVA. Prinsip lama model ekonomi adalah
.eputusan rasional merupakan salah satu yang memberikan penghasilan lebih besar
daripada biaya kapital. Secara tradisional, biaya kapital disamakan dengan
bunga yang dibayarkan pada kapital yang dipinjam. Akan tetapi, dalam EVA, biaya
semua kapital ditentukan. Misalnya, biaya kapital ekuitas (uang yang disediakan
pemegang saham) adalah biaya kesempatan (apa yang dapat dihasilkan pemegang
saham dalam apresiasi dan dividen harga jika mereka berinvestasi pada
perusahaan yang sama). Apa yang dihabiskan perusahaan pada penelitian dan
pengembangan atau pelatihan karyawan diperlakukan sebagai pengeluaran, tetapi
dalam EVA, hal tersebut dianggap sebagai investasi kapital dan ditambahkan
dalam biaya kapital. EVA ditentukan dengan membagi biaya kapital total dengan keuntungan
operasi setelah pajak. EVA menjadi populer karena perusahaan dan pemegang saham
melihatnya sebagai ukuran yang berguna untuk mengambil keputusan mengenai
masalah akusisi dan pajak sampai masalah kompensasi." Perusahaan dengan
EVA positif membuat keputusan rasional; perusahaan dengan EVA negatif menghancurkan
kapital dan menyebabkan perusahaan dalam masalah. Saat CSX, Briggs dan
Stratton, dan Coca-Cola beralih ke pendekatan EVA, nilai saham perusahaan meningkat.
Baru-baru ini, karena kompetisi kapital, advokat mengatakan bahwa EVA dapat
digunakan secara efektif dalam industri perawatan kesehatan yang bukan untuk
mencari keuntungan.
Ukuran yang lebih baru dan berbeda adalah MVA (market
value added). Perbedaan antara nilai pasar (jumlah yang dapat diambilkan
investor dari perusahaan) dan kapital yang diinvestasi (jumlah yang dimasukkan
investor dalam BERSAMBUNG
FILE TERSUSUN RAPI FORMAT DOCX (bisa di edit)
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT

No comments:
Post a Comment