BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Di akhir abad 20, konsep
alienasi dan keterasingan telah digunakan oleh banyak filsuf, ilmuwan sosial,
teolog, seniman, dan kritikus untuk menggambarkan sejenis eksistensi yang telah
menjadi hal yang umum di dunia modern. Eksistensi semacam ini seringkali
dipandang sebagai kehidupan yang tidak diinginkan. Dalam istilah umumnya, orang
yang teralienasi biasanya digambarkan sebagai orang yang entah bagaimana
tercerabut dari diri "sejati"-nya, budayanya, alam, orang lain,
kehidupan politik, bahkan Tuhan. Kebanyakan sastra modern di Barat telah
menjadi periwayatan tentang ketragisan, kekalahan diri, dan seringkali upaya
fatal manusia untuk merasa betah berada di dunia.
Sementara itu, gagasan lain
tentang alienasi yang cukup menarik datang dari Jacques Lacan. Lacan adalah
seorang psikoanalisi dan tidak bergulat langsung dengan filsafat. Dalam
pandangannya, alienasi adalah poin dasar dari identifikasi manusia.Dalam
alienasilah anak memperoleh pengalaman keterpisahan pertamanya, yang menjadi
operasi pertandaan yang krusial.
Perbedaan teori politik di
Negara berkembang kerap kali menibulkan perbedaan output politik. Politik luar
negeri kerapkali melibatkan tinjauan domestik dan internasional. Banyak
anggapan bahwa faktor-faktor domestik sama kuatnya mempengaruhi out put politik
luar negeri. Kerangka teoritis pun selalu mengambil dua pertimbangan yakni
unsur domestik dan elemen eksternal.
Politik adalah kajian ilmu
social, yang tidak bisa lepas dari aktivitas kehidupan manusia. Mengapa
demikian? Karena manusia adalah makhluk social. Sehingga bagaimanapun orang
memandang politik, selama manusia ada dan berupaya untuk melanjutkan
peradabannya, maka selama itu pula politik aka nada bersama berdampingan dengan
manusia. Sekalipun saat ini politik telah mengalami berbagai pergeseran, namun
rasanya kita tidak harus dan tidak bisa begitu saja dalam menilai baik tidak
politik, karena pada dasarnya poltik tu dikendalikan oleh manusia, maka wajar
kalu suatu ketika politik mengalami sedikit perubahan makna Karena manusia
sendiri apda dasarnya selalu berupaya untuk berubah. Hanya tingal kita bisa
tidak melihat sisi baik dari politik itu.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana penjelasan
terhadap teori alienasi?
2. Apa yang dimaksud dengan
games theory?
3. Hakikat politik, arti
dan sejarah perkembangannya?
4. Konsep-konsep
perpolitikan?
5. Pola dan bentuk-bentuk
politik?
6. Politik modernisasi
serta integritasnya?
7. Dan kajian istimewa
tentang partai politik?
C. Tujuan
Masalah
1. Memenuhi standar nilai
dalam pelajaran teori politik.
2. Untuk mengetahui tentang
teori alienasi.
3. Mengetahui perkembangan
politik di Negara berkembang.
4. Untuk mengetahui
bagaimana politik bangsa masa kini
BAB
II
TEORI
POLITIK
A. TOERI ALIENASI
Menurut Oliver Kelly, alienasi
bukanlah alienasi spekular dari tahapan cermin namun alienasi diperlukan untuk
pertandaan dan relasi subjek kepada bahasa. Sebagaimana bahasa menjadi yang
terpenting, alienasi yang inheren dalam bahasa juga menjadi yang terpenting.
Bahasa, menurut Lacan, merupakan alienasi dan kekerana budaya yang tersembunyi.
Lacan menggunakan retorika alienasi, namun kita tidak dapat menyimpulkan bahwa
dia mencoba memperlihatkan seluruh kebudayaan manusia sebagai kekerasan dan
kejahatan.
Konsep alienasi dan
keterasingan itu penting jika ingin memahami kehidupan di dunia
kontemporer,bahkan untuk memahami eksistensi manusia yang ditemukan kapanpun
atau dimanapun. Secara lebih langsungnya lagi, dengan memahami konsep ini kita
akan terbantu untuk memahami eksistensi dari orang-orang yang, dikarenakan
warna kulit, jenis kelamin, budaya, agama, atau status ekonomi, secara paling
dramatis dipisahkan dari budaya tempat mereka hidup. Penggambaran bahwa manusia
modern adalah manusia yang teralienasi atau terasingkan adalah kontroversial.
Beberapa kontroversi tersebut disebabkan oleh asosiasi konsep ini dengan karya
Karl Marx serta para pengikut politik dan intelektualnya. Selain itu, umumnya
orang membuat kesalahan serius ketika mencoba mempelajari konsep ini secara
serius dikarenakan konotasi Marxisnya. "Alienasi" dan
"Keterasingan" telah memiliki makna yang sangat berbeda ketika konsep
tersebut muncul dalam karya para pemikir yang berbeda.
Seluruh konsep alienasi ini
di ungkapkan pertama kali dalam dunia barat pada konsep pemujaan berhala dalam
konsep perjanjian lama essensi apa yang disebut para nabi sebagai “Syirik”. Bagi
Marx, Alienasi dalam proses kerja, dari produk kerja dan lingkungan, tidak bisa
dipisahkan dengan alienasi dari diri manusia sendiri, dari sesama manusia dan
alam. Manusia yang teralienasi ini bukan hanya teralienasi dari sesamanya,
tetapi juga teralienasi dari keadaan speciesnya, kedua alienasi bersifat
alamiah dan spiritual. Alienasi dari esensi manusia mengarah pada egotisme
eksistensial, yang digambarkan Marx sebagai esensi manusia yang menjadi” sebuah
alat eksistensi individualnya. Alienasi mengarah pada pemeliharaan semua nilai.
Teori alienasi atau
keterasingan, sebagaimana diekspresikan dalam tulisan-tulisan Karl Marx muda
(khususnya dalam Manuskrip 1844), merujuk ke pemisahan hal-hal yang secara
alamiah milik bersama, atau membangun antagonisme di antara hal-hal yang secara
pas sudah berada dalam keselarasan. Dalam penggunaan yang terpenting, konsep
itu mengacu ke alienasi sosial seseorang dari aspek-aspek “hakikat
kemanusiaannya” (Gattungswesen, biasanya diterjemahkan sebagai species-essence
atau 'esensi spesis,' atau species-being). Marx percaya bahwa
alienasi merupakan hasil sistematik. .
Teori-teori Marx ini
mengandalkan pada Esensi-esensi Kekristenan (1841) karya Feuerbach, yang
berpendapat bahwa gagasan tentang Tuhan telah mengasingkan ciri-ciri makhluk
manusia. Stirner akan membawa analisis itu lebih jauh, dengan mendeklarasikan
bahwa bahkan “kemanusiaan” itu sendiri merupakan pengasingan dari individu.
Marx dan Engels menanggapi pandangan itu dalam Ideologi Jerman(1845).
Empat Jenis Alienasi
Teori Alienasi Marx
didasarkan pada pengamatannya bahwa di dalam produksi industrial yang muncul di
bawah kapitalisme, para buruh tak terhindarkan kehilangan kontrol atas hidup
mereka, karena tidak lagi memiliki kontrol atas pekerjaan mereka.
Marx mengatribusikan empat
jenis alienasi pada buruh di bawah kapitalisme.
1.
Manusia teralienasi dari alam.
2.
Manusia teralienasi dari dirinya sendiri, dari aktivitasnya sendiri.
3.
Manusia teralienasi dari species-being (dari dirinya sebagai anggota dari
human-
species).
4.
Manusia teralienasi dari manusia lain.
Bentuk lanjut dari
keterasingan ini adalah keterasingan kaum proletar itu sendiri dari kehidupan
mereka yang berinti pada pekerjaan, namun terasing dalam bekerja itu sendiri.
Pada dasarnya mereka menyadari apa keterasingan mereka terhadap kehidupan ini,
namun dengan ilusi yang diciptakan oleh pemilik modal dalam bentuk upah sebagai
imbalan dari apa yang telah mereka kerjakan membuat para pekerja ini tidak
menyadari keterasingan mereka tersebut. Hal ini menciptakan keresahan sosial
yang menurut Marx menciptakan pelarian pada agama.
Kembali pada teori
alienasi, bukan hanya kaum proletar yang mengalami alienasi, melainkan juga
kaum kapitalis yang juga terasing dari kehidupan mereka. Kapitalis tersebut
telah sedemikian rupa terasing dari kehidupan mereka selain mencari keuntungan
material. Namun, yang terjadi dalam alienasi kaum kapitalis adalah semakin
terjaganya kemapanan kondisi mereka dalam strata social mereka.Dari segi
ekologis, terjadi keterasingan terhadap lingkungan dalam, baik bagi kaum
proletar maupun kaum kapitalis. Hal yang terjadi dalam kaum proletar berkaitan
dengan kebebasan yang melalui alienasi-alienasi akibat kegiatan berkerja mereka
telah terenggut. Di sisi lain, bentuk keterasingan dari kaum kapitalis terhadap
lingkungan adalah bagaimana mereka memperlakukan lingkungan tersebut hanya
sebatas faktor produksi yang dapat mendukung pencapaian tujuan utama mereka,
yaitu meraih keuntungan sebesar-besarnya. Kontra dengan yang terjadi pada kaum
proletar, kaum kapitalis yang menganggap diri mereka memiliki kebebasan
sepenuhya untuk mengeksploitasi berbagai potensi alam untuk mencapai tujuan
utama mereka. Yang terjadi dalam alienasi kaum kapitalis terhadap lingkungan
merupakan bentuk pengabaian kondisi lingkungan yang dilakukan secara sengaja
berkaitan dengan tujuan mereka, dengan kata lain, kaum kapitalis telah
terbutakan oleh tujuan material mereka dalam melihat kondisi lingkungan.
Dalam kasus alienasi
terhadap lingkungan yang pada dasarnya berimplikasi terhadap kehidupan pada
masing-masing kelas.Meskipun Marx tidak pernah secara langsung mengungkapkan
teori alienasi dalam terhadap lingkungan ini, namun dengan tujuan Marx yang
berusaha menggambarkan masyarakat ideal tanpa kelas dan manusia dapat hidup
dalam harmoni, revolusi atas alienasi terhadap lingkungan jelas juga
diiperlukan demi mencapai kehidupan harmoni tersebut.
Alienasi menurut Marx bukan
hanya berarti bahwa manusia tidak mengalami dirinya sebagai pelaku ketika
menguasai dunia, tetapi juga berarti bahwa dunia ( alam, benda dan manusia
sendiri) tetap asing bagi manusia. Dunia berdiri diatas dan menentang manusia
sebagai objek, meskipun dunia bisa menjadi objek ciptaan manusia. Alienasi pada
dasarnya melanda dunia dan manusia secara pasif dan reseptif sebagai subyek
yang terpisah dengan objek.
Bagi Marx, proses alienasi
diungkapkan dalam kerja dan pembagian buruh. Kerja baginya adalah keterhubungan
aktif manusia dengan alam, penciptaan sebuah dunia baru, termasuk penciptaan
dirinya sendiri. Marx melanjutkan lebih jauh. Dalam kerja yang tidak teralienasi
manusia bukan hanya mewujudkan dirinya sebagai seorang individu, tetapi juga
sebagai sebuah makhluk species. Bagi marx, juga bagi Hegel dan banyak pemikir
abad pencerahan lain, setiap individu mempresentasikan species, yakni
kemanusiaan sebagai keseluruhan universalitas manusia : perkembangan manusia
terhamparnya seluruh kemanusiaannya. Dalam proses kerja, manusia “ tidak lagi
memproduksi dirinya hanya secara intelektual, sebagaimana dalam kesadaran,
tetapi secara aktif dan penuh rasa, dan melihat bayangnya sendiri disebuah
dunia yang telah dibentuknya. Oleh karena itu ketika buruh yang teralienasi
oleh produksinya dari manusia, dia juga menjauhkan kehidupan speciesnya,
objektifitas nyatanya sebagai sebuah makhluk species, menghilangkan
kelebihannya dibanding binatang, begitu jauh sehingga tubuh anorganis dan
wataknya lenyap. Hanya ketika buruh teralienasi mentransformasikan aktifitasnya
secara bebas dan memiliki tujuan sendiri menjadi sebuah alat, dia
mentransformasikan sebuah species manusia, menjadi alat eksistensi fisik.
Kesadaran, yang memiliki manusia dari speciesnya, ditransformasikan melalui
alienasi sehingga kehidupan species menjadi sebuah alat untuknya.” Marx
berasumsi bahwa alienasi kerja yang mengalir sepanjang sejarah mencapai
puncaknya dalam masyarakat kapitalis, dan bahwa kelas pekerja menjadi kelompok
yang paling teralienasi. Asumsi ini didasarkan pada ide bahwa pekerja, yang
tidak mempunyai peran untuk menentukan arah kerjanya, yang dipekerjakan sebagai
bagian dari mesin yang dilayani, ditransformasikan menjadi barang yang
bergantung pada modal. Alienasi kerja dalam produksi manusia jauh lebih besar
daripada alienasi yang terjadi ketika produksi dikerjakan.
Kemudian yang ditulis Marx
dalam Capital: “ Di dalam sistem kapitalis, semua metode untuk membangkitkan
produktivitas sosial buruh dihasilkan oleh buruh individual;semua alat untuk
mengembangkan produksi mengubah dirinya menjadi sebuah alat untuk menguasai dan
untuk mengeksploitasi pembuatnya. Alat-alat tersebut merusak buruh sehingga menjadi
sekedar bagian dari manusia, mendegardasikan manusia sampai menjadi bagian dari
mesin, menghancurkan setiap sisa daya tarik dalam kerjanya dalam mengubah buruh
menjadi pekerja yang dibenci. Alat-alat tersebut memisahkan potensialitas
intelektualnya daridiri buruh sebagaimana sains yang dimilkinya sebagai sebuah
kekuasaan yang independen.”Bagi Marx Alienasi dalam proses kerja, dari produk
kerja dan lingkungan, tidak bisa dipisahkan dengan alienasi dari diri manusia
sendiri, dari sesama manusia dan alam. Manusia yang teralienasi ini bukan hanya
teralienasi dari dari sesamanya, tetapi juga teralienasi dari ke-ada-an
speciesnya, kedua alienasi bersifat alamiah dan spiritual. Alienasi dari esensi
manusia mengarah pada egotisme eksistensial, yang digambarkan Marx sebagai
esensi manusia yang menjadi” sebuah alat eksistensi individualnya. Buruh yang
teralienasi itu terasing dari tubuhnya sendiri, alam eksternal, kehidupan
mental dikehidupan manusia.”Alienasi mengarah pada pemeliharaan semua nilai.
Dengan membuat ekonomi dan nilai-nilainya-“keuntungan kerja, hemat dan
ketenangan hati”-sebagai tujuan hiudp yang tertinggi, manusia telah gagal
mengembangkan nilai-nilai yang tertinggi,manusia gagal mengembangkan
nilai-nilai moral yang benar,”kaya dengan hati nurani, kebenaran dan lain
sebagainya. Bagaimana saya dapat menjadi benar jika saya tidak hidup, dan
bagaimana saya dapat memiliki hati nurani jika saya tidak menyadari segala
sesuatu?”. Dalam keadaan teralienasi, setiap bidang kehidupan, ekonomi dan
moral, menjadi independen dari bidang kehidupan lainnya” setiap bidang
kehidupan terkonsentrasi pada sebuah bidang kegiatan khusus yang teralienasi
dan dengan sendirinya teralienasi dengan bidang kegiatan lainnya.
B.
POLITIK LUAR NEGERI DI NEGARA BERKEMBANG
Jika faktor-faktor domestik
itu menentukan kebijakan luar negeri maka kondisi negara-negara itupun ditinjau
dari segi perkembangan ekonomi memberikan nuansa terhadap perilakunya di dunia
internasional. Klasifikasi sederhana terhadap sebuah negara dalam konteks
ekonomi adalah negara-negara maju dan negara-negara berkembang.
Artikel ini akan mengulas
pendekatan terhadap studi politik luar negeri negara- negara berkembang. Namun
sebelum sampai pada kajian terhadap kebijakan eksternal negara berkembang
dilakukan terlebih dahulu survai singkat terhadap kerangka teoritis studi
politik luar negeri.
Sebuah daftar kerangka
teoritis yang dicatat Lyod Jensen (1982) memaparkan lima model dalam pembuatan
kebijakan politik luar negeri1. Pertama, model strategis atau rasional.
Pendekatan ini sering digunakan oleh sejarawan diplomatik untuk melukiskan
interaksi politik luar negeri berbagai negara atau tindakan para pemimpin
negara-negara itu dalam merespon negara lainnya. Negara dan pengambil keputusan
dipandang sebagai aktor terpencil yang memaksimalkan tujuannya dalam politik
global. Pendekatan ini memiliki kelemahan adalah asumsi kalkulasi rasional yang
dilakukan para pengambil kebijakan dalam situasi ideal yang jarang terjadi.
Dengan kata lain apa yang disebut rasional oleh peneliti sering dianggap
rasional oleh yang lainnya. Bahkan ada kelemahan lainnya bahwa model seperti
ini menyandarkan pada intuisi dan observasi.
Model kedua adalah
pengambilan keputusan. Penulis terkenal kerangka analisa ini adalah Richard C
Snyder, HW Bruck dan Burton Sapin. Ia menggambarkan modelnya dalam kerangka
yang kompleks dengan meneropong jauh kedalam "kotak hitam"
pengambilan kebijakan luar negeri. Salah salah satu keuntungan pendekatan ini
yakni membawa dimensi manusia kedalam proses politik luar negeri secara lebih
efektif.
Jensen juga menyebutkan
adanya model lain yakni politik birokratik. Pendekatan ini menekankan pada
peran yang dimainkan birokrat yang terlibat dalam proses politik luar negeri.
Menurut Jensen, karena peralihan yang signifikan dalam pemerintahan dan partai-
partai politik di banyak negara, maka politik luar negeri tergantung kepada
pelayanan pegawai negeri yang lebih permanen untuk informasi dan nasihat. Oleh
sebab itu birokrat - termasuk di jajaran Departemen Luar Negeri - mampu
mempengaruhi pembentukan politik luar negeri. Namun demikian peran birokrat ini
tak bisa dibesar-besarkan karena keterbatasan pengaruhnya juga.
Keempat, model adaptif
menekankan pada anggapan bahwa perilaku politik luar negeri seyogyanya
difokuskan pada bagaimana negara merespon hambatan dan peluang yang tersedia
dalam lingkungan internasional. Disinilah pilihan politik luar negeri tidak
dalam kondisi terbatas namun sangat terbuka terhadap segala pilihan.
Model kelima disebut Jensen
sebagai pengambilan keputusan tambahan. Karena adanya ketidakpastian dan tidak
lengkapnya informasi dalam masalah-masalah internasional, disamping banyaknya
aktor-aktor publik dan privat yang terkait dengan isu- isu politik luar negeri,
maka keputusan tak bisa dibuat dalam pengertian kalkulasi rasional
komprehensif.
Sementara itu studi politik
luar negeri negara-negara sedang berkembang disebut- sebut "kurang
berkembang" atau "tidak berkembang". Namun demikian studi
terhadap Negara berkembang, untuk membedakan dari negara maju seperi Amerika
Serikat atau Inggris, tetap menarik untuk disimak.
Politik luar Negeri Negara Berkembang
Sejauh ini seperti
dikatakan Ali E Hilla Dessouki dan Bghat Korany2, ada tiga pendekatan yang
mendominasi studi politik luar negeri di negara-negara berkembang baik di Asia,
Afrika maupun Amerika Latin.
Pertama, pendekatan
psikologis. Pendekatan ini menilai politik luar negeri sebagai fungsi impuls
dan idiosinkratik seorang pemimpin. Menurut pandangan ini, raja-raja dan
presiden merupakan sumber politik luar negeri. Oleh karena itu perang dan damai
merupakan selera pribadi dan pilihan individual.
Dalam hal ini politik luar
negeri dipersepsikan bukan sebagai aktivitas yang dirancang untuk mencapai
tujuan-tujuan nasional atau sosietal melainkan seperti ditulis Edward Shill
tahun 1962 sebagai "bagian dari hubungan masyarakat". Tujuannya,
memperbaiki citra negara, meningkatkan popularitas pemimpin dan mengalihkan
perhatian dari kesulitan-kesulitan domestik kepada ilusi-ilusi kemenangan eksternal.
Terhadap pendekatan ini
sedikitnya terdapat tiga kritik. Pertama, pendekatan ini membuat politik luar
negeri tampak seperti sebuah kegiatan irasional, bukan masalah analisis
sistematik. Kritik kedua, pendekatan ini mengabaikan konteks (domestik,
regional dan global) dimana politik luar negeri diformulasikan dan
dilaksanakan. Ketiga, pendekatan seperti ini mengabaikan fakta bahwa karena
kepentingan mereka dalam survival politik, sebagian besar pemimpin menepiskan
sifat eksentriknya yang berlawanan dengan sikap dominan, perasaan publik dan
realitas politik.
Memang sulit
mengesampingkan variabel idiosinkratik di kebanyakan negara berkembang namun
yang lebih penting dianalisa bagaimana konteks pembuatan kebijakan mendorong
tipe-tipe kepemimpinan tertentu dan bukan tipe yang lainnya. Atau bagaimana
faktor idiosinkratik pemimpin mungkin mengubah konteks, mempengaruhi orientasi
politik luar negeri pemimpin lainnya.
Kedua, pendekatan
negara-negara besar yang dominan di kalangan pakar-pakar realis seperti Hans J
Morgenthau. Pendekatan ini memandang politik luar negeri sebagai fungsi konflik
Timur-Barat. Singkatnya, politik luar negeri negara-negara berkembang dipandang
lemah otonominya. Negara berkembang dipengaruhi rangsangan ekstern mereka
bereaksi terhadap prakarsa dan situasi yang diciptakan kekuatan eksternal.
Kelemahan utama pendekatan ini mengabaikan sumber-sumber dalam negeri dalam
politik luar negeri.
Ketiga, pendekatan
reduksionis ataumode l-builders. Pendapatnya, politik luar negeri negara
berkembang ditentukan oleh proses yang sama dan perhitungan keputusan yang
membentuk politik luar negeri negara-negara maju. Perbedaan dasarnya adalah
kuantifikasinya. Negara berkembang memiliki sumber-sumber dan kemampuan yang
kecil. Oleh sebab itu, melaksanakan politik luar negeri dalam skala yang lebih
kecil. Pandangan ini berdasarkan asumsi bahwa perilaku semua negara (besar dan
kecil, kaya atau miskin, berkembang atau maju) mengikuti model pengambilan
keputusan aktor rasional.
Dikatakan pula, semua
negara berusaha meningkatkan kekuasaan dan semua negara juga dimotivasi oleh
faktor-faktor keamanan. Oleh karena itulah, politik luar negeri negara- negara
berkembang persis sama seperti negara maju namun dalam level lebih rendah.
Pendekatan ini tidak memperhitungkan karakter khusus seperti modernisasi,
pelembagaan politik yang rendah dan status ketergantungan dalam stratifikasi
sistem global.
Salah satu ciri-ciri kajian
baru, berbeda dengan tiga pendekatan tadi, menekankan kepada sumber-sumber
politik luar negeri dan bagaimana proses modernisasi dan perubahan sosial
mempengaruhi perilaku eksternal negara-negara berkembang.
Misalnya karya Weinstein
tentang politik luar negeri Indonesia yang menghasilkan pandangan adanya tiga
tujuan politik luar negeri3. Pertama, mempertahankan kemerdekaan bangsa melawan
ancaman yang dipersepsikan. Kedua, mobilisasi sumber-sumber eksternal untuk
pembangunan dalam negeri. Dan ketiga, mencapai sasaran-sasaran yang berkaitan
dengan politik dalam negeri seperti mengisolasi salah satu oposisi politik dari
dukungan luar negeri, memanfaatka legitimasi untuk tuntutan-tuntutan politik
domestik dan menciptakan simbol-simbol nasionalisme dan persatuan nasional.
Contoh lain kajian baru
politik luar negeri negara berkembang menekankan sumber- sumber domestik dan
bagaimana proses modernisasi dan perubahan sosial mempengaruhi perilaku
eksterrnal. East dan Hagen menggaris bawahi faktor sumber-sumber untuk
membedakan dengan ukuran-ukuran faktor itu berupa jumlah absolut sumber-sumber
yang tersedia dengan faktor modernisasi yang artinya kemampuna memobilisasi,
mengontrol dan menggunakan sumber-sumber ini. Modernisasi itu sendiri dipandang
sebagai proses dimana negara-negara meningkatkan kemampuannya untuk mengontrol
dan menggunakan sumber- sumbernya. Ini berarti, negara yang modern punya
kemampuan yang lebih besar dalam bertindak.
Unsur penting lainnya
kajian politik luar negeri negara berkembang menekankan pada posisi ekonomi
politik aktor dalam startifikasi sistem global. Johan Galtung seperti dikutip
Marshall R Singer melukiskan dengan jelas tentang stratifikasi dalam sistem
internasional ini4. Galtung memaparkan bahwa sistem politik internasional mirip
dengan sistem feodal yang terdiri dari negara besar alias "top dog",
negara menengah dan regional serta negara berkembang atau negara
"underdog" yang lebih kecil.
Dalam konteks ini,
ketidaksederajatan menjadi fokus utama. Negara berkembang eksis dalam tatanan
dunia ini dicirikan dengan ketidaksederajatan antara negara dalam level
pembangunan sosial ekonomi, kemampuan militer dan stabilitas politik dan
prestise. Akibatnya, penetrasi luar terada proses pengambilan keputusan
negara-negara berkembang. Aktor eksternal berpartisipasi secara otoritatif
dalam alokasi sumber-sumber dan determinasi sasaran-sasaran nasional. Dalam hal
ini banyak karya ilmiah sudah ditulis tentang peranan Dana Moneter
Internasional (IMF), perusahaan multinasional dan bantuan luar negeri
negara-negara besar.
Dari berbagai pendekatan
yang ada, tulis Hillal dan Korany, analisis yang memadai terhadap politik luar
negeri negara-negara berkembang semestinya mempertimbangkan bahwa politik luar
negeri adalah bagian dan paket situasi umum Dunia Ketiga dan merefleksikan evolusi
situasi ini. Dengan demikian, proses politik luar negeri tak dapat dipisahkan
dari struktur sosial domestik atau proses politik domestik.
Menurut Hillal dan Korany,
untuk memahami politik luar negeri negara Dunia Ketiga perlu membuka
"kotak hitam". Dunia Ketiga ini banyak dipengaruhi stratifikasi
internasional. Meskipun negara berdaulat namun negara-negara Dunia Ketiga,
dapat dirembesi, dipenetrasi dan bahkan didominasi. Oleh sebab itu penting pula
melihat struktur global yang mempengaruhi proses pembuatan kebijakan luar
negeri.
Sedikitnya
ada tiga persoalan besar yang dihadapi negara berkembang dalam melaksanakan
politik luar negerinya. Pertama, dilema bantuan dan independensi.BERSAMBUNG
FILE TERSUSUN RAPI FORMAT DOCX (bisa di edit)
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT

No comments:
Post a Comment