BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
SEJAK awal kemerdekaan,
bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya
masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam alinea keempat
Undang-Undang Dasar 1945. Program-program
pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan,terutama di daerah Bekasi.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah “negara berkembang” biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang miskin
pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan,terutama di daerah Bekasi.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah “negara berkembang” biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang miskin
Indonesia
selalu di hadapkan pada masalah yang secara birokrasi,baik dalam internal
maupun eksternal karna pada sistem kebijakan publik sangat menentukan nasip
rakyat dan bangsa indonesia umum nya.
dan ini semua tidak
lepas dari sikap para pejabat yang hanya mementingkan partainya dan komonitas
nya sehingga rakyatlah yang kena imbasnya dalam permainan politik,pejabat yang
semestinya melayani masyarakat ternyata berbalik kaprah yang justru ia yang di
layani oleh masyarakat,kesalahan tehnis dalam menerapkan kebijakan publik
sangat bepengaruh kepada kemajuan dalam pembangunan dan kesejeteraan rakyat.
Sehingga ketimpangan
sosial tidak bisa lagi di elakan oleh paktor kesalah tehknis dalam menerapkan kebijakan
yang di lakukan oleh pejabat yang mulia, pengangguran semakin memperparah wajah
negara indonesia sehingga rakyat banyak yang tidak bisa mengerjar dan banngkit
dalam dunia perekonomian sehingga kemajuan dalam bidang IMTEK,.
BAB
II
MASALAH KETIMPANGAN
Ketimpangan pembangunan yang terjadi di Indonesia secara makro dipengaruhi oleh adanya kesenjangan dalam alokasi sumber daya; sumberdaya manusia,, fisik, teknologi dan capital. Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda didalam menghadapi isu ketimpangan pembangunan. Indonesia bagian barat menjadi primadona pembangunan ekonomi Indonesia sejak pemerintahan orde baru dimulai, terlebih sebelum era desentralisasi diterapkan di Indonesia. Sementara sebaliknya, untuk wilayah Indonesia Timur, banyak mengalami ketertinggalan diberbagai sector pembangunan.
Salah satu dampak sosial
yang terjadi akibat kesenjangan atau ketimpangan pembangunan ekonomi dalah
adanya kemiskinan diberbagai sektor. Kemiskinan menjadi problem kolektif bangsa
Indonesia. Berbagai program dan strategi mengentaskan kemiskinan juga telah
banyak dilakukan oleh pemerintah; mulai dari penguatan kualitas sumberdaya
manusia, pembukaan lapangan pekerjaan, eksplorasi sumberdaya alam dan
penyediaan program padat karya. Tulisan ini secara global akan memotret dua
persoalan besar yang melanda dan menjadi problem bersama semua daerah.
Dalam sebuah negara pasti
tidak akan terlepas dari aktivitas-aktivitas perekonomian. Aktivitas
perekonomian ini terjadi dalam setiap bentuk aktivitas kehidupan dan terjadi
pada semua kalangan masyarakat, baik masyarakat menengah ke bawah maupun pada
masyarakat kalangan atas. Dalam pelaksanaannya, perekonomian selalu menimbulkan
permasalahan. Terlebih lagi dalam pelaksanaannya di sebuah negara yang sedang
berkembang. Begitu juga dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia. Permasalahan perekonomian yang dihadapi bangsa ini sangat
kompleks karena letak antara pulau satu dengan pulau yang lainnya sangat berjauhan.
Permasalahan ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia yang tetap terjadi hingga saat ini adalah terjadinya ketimpangan pembangunan perekonomian.. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah perekonomian pemerintah harus menyelesaikan permasalahan akarnya yaitu ketimpangan pembangunan dan perekonomian yang terjadi di wilayah Indonesia. Apabila permasalahan inti ini sudah terselesaikan atau paling tidak pembangunan perekonomian di Indonesia mulai terjadi pemerataan, maka permasalahan perekonomian lain yang timbul sebagai akibat dari ketimpangan pembangunan perekonomian akan terpecahkan satu per satu dari masalah yang terkecil.
Permasalahan ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia yang tetap terjadi hingga saat ini adalah terjadinya ketimpangan pembangunan perekonomian.. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah perekonomian pemerintah harus menyelesaikan permasalahan akarnya yaitu ketimpangan pembangunan dan perekonomian yang terjadi di wilayah Indonesia. Apabila permasalahan inti ini sudah terselesaikan atau paling tidak pembangunan perekonomian di Indonesia mulai terjadi pemerataan, maka permasalahan perekonomian lain yang timbul sebagai akibat dari ketimpangan pembangunan perekonomian akan terpecahkan satu per satu dari masalah yang terkecil.
Setiap pembangunan yang
dijalankan oleh pemerintah, setidaknya akan medapatkan apa yang namanya
prestasi pembangunan, untuk mengetahui Prestasi pembangunan suatu negara atau
daerah kita dapat menilainya dengan berbagai macam cara dan tolak ukur, baik
dengan pendekatan ekonomi maupun dengan pendekatan non ekonomi. Penilaian
dengan pendekatan ekonomi dapat dilakukan berdasarkan tinjauan aspek pendapatan
maupun aspek non pendapatan. Tolak ukur pendapatan perkapita, sebagaimana kita
sadari belum cukup untuk menilain prestasi pembangunan. Karena baru merupakan
konsep rata-rata, pendapatan perkapita tidak mencerminkan bagaimana pendapatan
suatu daerah terbagi dikalangan penduduknya, sehingga unsur kemerataan atau
keadilan tidak terpantau. Distribusi pendapatan mencerminkan merata atau
timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu daerah dikalangan penduduknya
Dalam kontek untuk mengukur dan menilai kemerataan (parah atau lunaknya ketimpangan) distribusi pendapatan, kita dapat melihatnya berdasarkan, pertama Kurva Lorenz dan Indek atau Rasio Gini. Kurva Lorenz menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan dikalangan lapisan-lapisan penduduk secara kumulatif pula. Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur sangkar yang sisi tegaknya melambangkan presentase kumulatif pendapatan. Sedangkan sisi datarnya mewakili presentase kumulatif penduduk. Kurva Lorenz yang semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan distribusi pendapatan yang semakin merata. Sebaliknya, jika Kurva Lorenz semakin jauh dari diagonal (semakin lengkung), maka ia mencerminkan keadaan yang semakin buruk, distibusi pendapatan semakin timpang dan tidak merata.
Sementara pada pendekatan Indek atau Rasio Gini, adalah suatu koefisien yang berkisar dari angka 0 hingga 1, menjelaskan kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan. Semakin kecil (semakin mendekati nol) koefisiennya, pertanda semakin baik atau merata distribusi. Dilain pihak, koefisien yang semakin besar (semakin mendakati 1) mengisyaratkan distribusi yang kian timpang atau senjang.
Dalam kontek untuk mengukur dan menilai kemerataan (parah atau lunaknya ketimpangan) distribusi pendapatan, kita dapat melihatnya berdasarkan, pertama Kurva Lorenz dan Indek atau Rasio Gini. Kurva Lorenz menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan dikalangan lapisan-lapisan penduduk secara kumulatif pula. Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur sangkar yang sisi tegaknya melambangkan presentase kumulatif pendapatan. Sedangkan sisi datarnya mewakili presentase kumulatif penduduk. Kurva Lorenz yang semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan distribusi pendapatan yang semakin merata. Sebaliknya, jika Kurva Lorenz semakin jauh dari diagonal (semakin lengkung), maka ia mencerminkan keadaan yang semakin buruk, distibusi pendapatan semakin timpang dan tidak merata.
Sementara pada pendekatan Indek atau Rasio Gini, adalah suatu koefisien yang berkisar dari angka 0 hingga 1, menjelaskan kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan. Semakin kecil (semakin mendekati nol) koefisiennya, pertanda semakin baik atau merata distribusi. Dilain pihak, koefisien yang semakin besar (semakin mendakati 1) mengisyaratkan distribusi yang kian timpang atau senjang.
2.1
Permasalahan Dasar ketimpangan
Sebab Ketimpangan
Menurut Sarjono HW (2006) pada kontek mikro,
yang menjadi penyebab terjadinya ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah
pada umumnya, penyebabnya antara lain:
1.
Keterbatasan informasi pasar dan informasi teknologi untuk pengembangan produk
unggulan.
2.
Belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari pelaku pengembangan
kawasan di daerah.
3.
Belum optimalnya dukungan kebijakan nasional dan daerah yang berpihak kepada
petani dan pelaku swasta.
4.
Belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berorientasi pada
pengelolaan pengembangan usaha yang berkelanjutan dalam perekonomian daerah.
5. Belum berkembangnya koordinasi, sinergitas,
dan kerjasama,diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan, baik pemerintah,
swasta, lembaga non pemerintah, dan petani, serta antara pusat, propinsi, dan
kabupaten atau kota dalam upaya peningkatan daya saing kawasan dan produk
unggulan.
6. Masih terbatasnya akses petani dan pelaku
usaha kecil terhadap modal pengembangan usaha, input produksi, dukungan
teknologi, dan jaringan pemasaran dalam upaya pengembangan peluang usaha dan
kerjasama investasi.
7. Keterbatasan jaringan prasarana dan sarana
fisik dan ekonomi di daerah dalam mendukung pengembangan kawasan dan produk
unggulan daerah.
8. Belum optimalnya pemanfaatan kerangka
kerjasama antar daerah untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan
produk unggulan
Sementara pada aspek makro, Dumairy (1996),
menyatakan bahwa terdapat ada dua faktor yang layak dikemukakan untuk
menerangkan mengapa ketimpangan pembangunan dan hasil-hasilnya dapat terjadi.
Faktor pertama ialah karena ketidaksetaraan anugerah awal (initial endowment)
diantara pelaku-pelaku ekonomi. Sedangkan faktor kedua karena strategi
pembangunan yang tidak tepat_cenderung berorientasi pada pertumbuhan, (growth).
Ketidaksetaraan anugerah awal yang dimaksud
adalah adanya kesenjangan antara bekal “resources” yang dimiliki oleh para
pelaku ekonomi. Yang meliputi, sumberdaya alam, kapital, keahlian/keterampilan,
bakat/potensi atau sarana dan prasarana. Sedangkan pelaku ekonomi adalah
perorangan, sektor ekonomi, sektor wilayah/daerah/kawasan). Sumberdaya alam
yang dimiliki tidak sama antar daerah, (pra)sarana ekonomi yang tersedia tidak
sama antar daerah, begitu pula yang lain-lainnya seperti kapital,
keahlian/keterampilan serta bakan atau potensi.
Kalau kita lihat secara objektif, ketimpangan pembangunan, yang selama ini berlangsung dan berwujud khsususnya pada Negara berkembang adalah dalam berbagai bentuk, aspek, atau dimensi. Bukan saja ketimpangan hasil-hasilnya, misalnya dalam hal pendapatan perkapita, tetapi juga ketimpangan kegiatan atau proses pembangunan itu sendiri. Bukan pula semata-mata berupa ketimpangan spasial atau antar daerah, yakni antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan. Akan tetapi juga berupa ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional. Ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional misalnya, dapat dilihat berdasarkan perbedaan mencolok dalam aspek-aspek seperti penyerapan tenaga kerja; alokasi dana perbankan; investasi dan pertumbuhan.
Kalau kita lihat secara objektif, ketimpangan pembangunan, yang selama ini berlangsung dan berwujud khsususnya pada Negara berkembang adalah dalam berbagai bentuk, aspek, atau dimensi. Bukan saja ketimpangan hasil-hasilnya, misalnya dalam hal pendapatan perkapita, tetapi juga ketimpangan kegiatan atau proses pembangunan itu sendiri. Bukan pula semata-mata berupa ketimpangan spasial atau antar daerah, yakni antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan. Akan tetapi juga berupa ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional. Ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional misalnya, dapat dilihat berdasarkan perbedaan mencolok dalam aspek-aspek seperti penyerapan tenaga kerja; alokasi dana perbankan; investasi dan pertumbuhan.
Secara makro ketimpangan pembangunan yang
terjadi di diberbagai daerah, tentunya karena lebih disebabkan oleh aspek
strategi pembangunan yang kurang tepat. Strategi pembangunan yang bertumpu pada
pertumbuhan misalnya, ternyata tidak mampu mengatasi persoala-persoalan yang
terjadi di daerah, malah sebaliknya hanya memperkaya pelaku-pelaku ekonomi
tertentu yang dekat dan mudah mendapatkan akses pembangunan secara gratis.
Oleh karena itu, untuk dapat menghasilkan
pembangunan ekonomi yang sebenar-benarnya dapat dirasakan oleh semua
masyarakat, harus ada keberanian dari pemerintah daerah untuk mengubah cara
pandang dan strategi pembangunan ekonominya kearah yang lebih sehat dan
kompetitif. Kue-kue pembangunan harus dapat dinikmati dan dirasakan oleh semua
masyarakat yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, jangan sampai kue
pembangunan hanya milik segelintir kelompok atau golongan tertentu saja yang
dekat dengan kekuasan dan mudah mendapatkan akses pembangunan secara gratis.
BAB
II
MASALAH
KEMISKINAN
Masalah kemiskinan bukanlah masalah yang baru. Sejak bangsa Indonesia merdeka, menjadi cita-cita bangsa adalah mensejahterakan seluruh rakyat Karena kenyataan yang dihadapi adalah kemiskinan yang masih diderita oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Hampir setiap pemimpin di Indonesia, selalu menghadapi kenyataan ini, meskipun bentuk kemiskinan yang terjadi tidak sama di setiap era suatu pemerintahan.
Kemiskinan adalah problem sosial. Bagi
kebanyakan orang, kemiskinan merupakan masalah yang cukup merisaukan. Ia
dianggap sebagai penyakit sosial yang paling dahsyat dan menjadi musuh utama
negara (Hairi Abdullah 1984:16). Kemiskinan bukan saja dilihat sebagai fenomena
ekonomi semata-mata, tetapi juga sebagai masalah sosial dan politik (Syed
Othman Alhabshi 1996). Karena dirasakan dahsyatnya bahaya kemiskinan, membasmi
kemiskinan dianggap sebagai jihad (Anwar Ibrahim 1983/1984:25). Secara umum,
kemiskinan mempunyai empat dimensi pokok, yaitu; kurangnya kesempatan (lack of
opportunity); rendahnya kemampuan (low of capabilities); kurangnya jaminan
(low-level of security); dan ketidakberdayaan (low of capacity or empowerment).
Dan lazimnya kemiskinan diukur dengan garis kemiskinan (poverty line).
Kemiskinan tidak saja mengakibatkan penyakit busung lapar (gizi buruk), atau
juga penyakit sosial, seperti Penjaja Sex Komersial (PSK), gembel (pengemis)
dan lain sebagainya, kemiskinan juga mengakibatkan turunnya harga diri individu
atau kelompok masyarakat.
Secara psikologis orang miskin cenderung lebih
sensitif, gampang tersinggung, kurang percaya diri bahkan gampang emosi,
sehingga kondisi ini rawan dengan berbagai upaya pemanfaat pihak ketiga yang
menggunakannya sebagai kendaraa/alat untuk memancing kerusuhan di sebuah
daerah, intinya kemiskinan memiliki keterkaitan cukup erat dengan stabilitas
politik dan ekonomi sebuah daerah.Karena merupakan masalah pembangunan yang
multidimensi, maka pemecahan kemiskinan harus melalui strategis yang
komperhensif, terpadu, terarah dan berkesinambungan.
Konsep
Kemiskinan
Dari berbagai literatur yang mengupas tentang
konsep kemiskinan, paling tidak ada dua macam konsep kemiskinan yang dapat kita
terima sebagai rujukan, yaitu; kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.
Konsep pertama kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu
yang kongkrit (a fixed yardstick). Ukuran itu lazimnya berorientasi kebutuhan
hidup dasar minimum anggota masyarakat (sandang, pangan dan papan).
Masing-masing negara terlihat mempunyai
batasan kemiskinan absolut yang berbeda-beda, sebab kebutuhan hidup dasar
masyarakat yang dipergunakan sebagai acuan memang berlainan. Karena ukurannya
dipastikan, maka konsep kemiskinan semacam itu mengenal garis batas kemiskinan.
Kemiskiinan absolut juga dapat dilihat dari sejauhmana tingkat pendapatan
penduduk miskin tersebut mampu mencukupi kebutuhan pokoknya (basic needs),
yaitu pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan. Kemampuan untuk membeli
kebutuhan pokok ini dieuivalenkan dengan daya belinya (nilai uang). Mereka yang
tidak mampu membeli kebutuhan pokok tertentu sesuai standar minimal dianggap
berada pada posisi dibawah garis kemiskinan. Konsep yang kedua kemiskinan
relatif dirumuskan berdasarkan the idea of relative standart, yaitu dengan
memperhatikan dimensi tempat dan waktu.
Dasar asumsinya adalah kemiskinan pada suatu
daerah tertentu berbeda dengan pada daerah tertentu lainnya, dan kemiskinan
pada waktu (saat) tertentu berbeda dengan waktu yang lain. Konsep kemiskinan
relatif lazimnya diukur berdasarkan pertimbangan in term of judgment anggota
masyarakat tertentu, dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup.
kemiskinan relatif dilihat berdasarkan persentase pendapatan yang diterima oleh
pendapatan lapisan bawah. Mereka yang berada pada lapisan bawah dalam
stratifikasi pendapatan nasional inilah yang dianggap miskin. (Edi Suandy Hamid
2000:14)
Stigma Kemiskinan
Sedikitnya ada dua macam perspektif yang
lazim dipergunakan untuk mendekati masalah kemiskinan, yaitu; kemiskinan dalam
perspektif kultural (the cultural perspective) dan kemiskinan dalam perspektif
struktural atau situasional (the situasional perspective). Masing-masing
perspektif tersebut memiliki tekanan, acuan dan metodologi tersendiri yang
berbeda dalam menganlisa masalah kemiskinan. Perspektif kultural mendekati masalah
kemiskinan pada tiga level analisis; individual, keluarga dan masyarakat. Pada
level individual ditandai sifat yang lazim disebut a strong feeling of
marginality, seperti; sikap parochial, sikap apatisme, fatalisme, atau pasrah
pada nasib, boros, tergantung dan inferior.
Pada level keluarga ditandai oleh jumlah anggota keluarga yang besar dan free union or consensual marriages. Kemudian pada level masyarakat, terutama ditandai oleh tidak terintegrasinya secera efektif dengan insitusi-institusi masyarakat. Mereka sering kali memperoleh perlakuan sebagai obyek yang perlu digarap daripada sebagai subyek yang perlu diberi peluang berkembang.
Kemudian perspektif struktural/situasional masalah kemiskinan sebagai dampak dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk teknologi modern. Penetrasi kapital antara lain mengejawantahkan dalam program-program pembangunan yang dinilai lebih mengutamakan pertumbuhan (growth) dan kurang memperhatikan pemerataan hasil-hasil pembangunan (development).
Program-program tersebut antara lain berbentuk intensifikasi, ekstensifikasi dan komersialisasi pertanian untuk menghasilkan pangan sebesar-besarnya guna memenuhi kebutuhan nasional dan eksport. Edi Suandy Hamid (2000:19) mengatakan bahwa masalah kemiskinan yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya jumlah pengangguran. Pada masa krisis ekonomi ini, bukan saja laju pertambahan angkatan kerja baru tidak bisa diserap oleh pasar kerja, melainkan juga terjadi pemutusan hubungan kerja disektor formal yang berakibat bertambahnya angkatan kerja yang menganggur, baik itu yang menganggur penuh atau sama sekali tidak bekerja (open unemployment) maupun setengah menganggur atau bekerja dibawah jam kerja normal (under un employment).
Pada level keluarga ditandai oleh jumlah anggota keluarga yang besar dan free union or consensual marriages. Kemudian pada level masyarakat, terutama ditandai oleh tidak terintegrasinya secera efektif dengan insitusi-institusi masyarakat. Mereka sering kali memperoleh perlakuan sebagai obyek yang perlu digarap daripada sebagai subyek yang perlu diberi peluang berkembang.
Kemudian perspektif struktural/situasional masalah kemiskinan sebagai dampak dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk teknologi modern. Penetrasi kapital antara lain mengejawantahkan dalam program-program pembangunan yang dinilai lebih mengutamakan pertumbuhan (growth) dan kurang memperhatikan pemerataan hasil-hasil pembangunan (development).
Program-program tersebut antara lain berbentuk intensifikasi, ekstensifikasi dan komersialisasi pertanian untuk menghasilkan pangan sebesar-besarnya guna memenuhi kebutuhan nasional dan eksport. Edi Suandy Hamid (2000:19) mengatakan bahwa masalah kemiskinan yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya jumlah pengangguran. Pada masa krisis ekonomi ini, bukan saja laju pertambahan angkatan kerja baru tidak bisa diserap oleh pasar kerja, melainkan juga terjadi pemutusan hubungan kerja disektor formal yang berakibat bertambahnya angkatan kerja yang menganggur, baik itu yang menganggur penuh atau sama sekali tidak bekerja (open unemployment) maupun setengah menganggur atau bekerja dibawah jam kerja normal (under un employment).
BERSAMBUNG
FILE TERSUSUN RAPI FORMAT DOCX (bisa di edit)
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT

No comments:
Post a Comment