Laporan Analisis :
1. Sinopsis
Film 3600 Detik
Perubahan adalah hal yang lumrah terjadi dalam
kehidupan. Hanya ada 2 kemungkinan, perubahan mampu membawa kearah yang lebih
baik atau sebaliknya lebih buruk. Tergantung bagaimana penerapannya.
Namun Sandra (shae) mendadak berubah secara drastic dalam hidupnya. Semula, Sandra ialah
anak remaja yang sempurna. Cantik, memiliki keluarga harmonis, keuangan tak
pernah kurang, dan memiliki banyak sahabat – sahabat yang baik. Sandra
merupakan anak tunggal yang sangat dekat dengan ayahnya (ponco buwono),
lantaran sang ibu (wulan guritno) yang disibukkan dengan pekerjaannya sebagai
wanita karir.
Sayang, jalan hidup berkata lain. Sandra harus
merasakan getirnya perceraian Papa dan Mamanya yang berdampak buruk baginya. Sang ayah
memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Sandra pada mamanya. Sang ibu harus
beradaptasi terhadap hubungan mereka yang semula kurang akrab.
Untuk
menunjukkan kemarahannya,
Sandra
mengecat rambutnya menjadi merah. Kini
sahabatnya pun pergi meninggalkan Sandra dan tidak ada orang yang mau berteman dengan Sandra. Kebiasaannya pun berubah. Ia bukan lagi anak manis
dengan keluarga yang harmonis. Sang Ibu mencoba
memperbaiki keadaan dan mengajak
Sandra
pindah ke luar kota.
Hari pertama disekolah baru,
Sandra sudah mendapatkan masalah dengan gurunya.
Tetapi Sandra bertemu seorang teman bernama
Leon (Stefan William),
seorang juara kelas
yang sangat bersahabat. Biasanya, kebanyakan orang takut dengan
Sandra yang ketus dan urakan.
Biasanya,
rambut merah Sandra membuat orang lain memandangnya aneh. Tapi, Leon berbeda.
Leon menawarkan
Sandra pertemanan.
Meskipun diawalnya Sandra merasa terganggu dengan
kehadiran Leon, namun lambat laun kondisi berubah. Leon
membawa Sandra
pada petualangan baru yang seru. Kenakalan - kenakalan yang dibuat
Sandra membuat Pak Doni menugaskan
Leon mengawasi Sandra dan membuat
jadwal
harian di mana Sandra dan Leon harus belajar bersama.
Seiring
dengan berjalannya waktu, Sandra dan Leon semakin dekat. Sandra memberi warna baru
di hidup Leon
yang semula terasa datar. Leon membantu Sandra menjadi lebih baik. Ketika semuanya terasa mulai membaik,
tiba-tiba Leon menghilang dan tidak
bisa
dihubungi. Yang lebih parahnya lagi, Leon ternyata menyimpan sebuah rahasia besar
dan Sandra
tidak pernah mengetahuinnya
2. Landasan
Teori
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami seseorang dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon. Behaviorisme berlandaskan perilaku yang dapat diamati dan diukur. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah laku. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement).
Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
Kondisi belajar merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi proses dan hasil belajar. Kondisi belajar yang baik akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang baik, begitu pula sebaliknya. Dalam teori Behavioristik proses belajar merupakan perolehan pengalaman dari luar (eksternal), faktor dari dalam (internal) sipe belajar tidak banyak berpengaruh.
Macam Teori-Teori Belajar Behaviorisme
·
Teori Koneksionisme (Edward Lee Thorndike)
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan responya itu interaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/ tindakan. Dari defenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan responya itu interaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/ tindakan. Dari defenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
·
Teori Classic Conditioning (Ivan Petrovich Pavlov)
Eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dapat diketahui bahwa daging sebagai makanan anjing yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa iadi kendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dapat diketahui bahwa daging sebagai makanan anjing yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa iadi kendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
·
Teori Kontiguitas Conditioning (Edwin R Guthrie)
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar perserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Dalam teori ini Guthrie mengasosiasikan rangsangan dan respon secara tepat, sehingga untuk penerapan teori ini dalam proses belajar mengajar dikelas adalah : Guru harus mengarahkan performa siswa, membaca atau mencatat sebagai perangsang siswa untuk menghafal, Dalam hal ini Guru dalam mengelola kelas dianjurkan tidak memerintahkan secara langsung, akan tetapi memberikan stimulus yang berakibat munculnya prilaku sebagai respon dari siswa.
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar perserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Dalam teori ini Guthrie mengasosiasikan rangsangan dan respon secara tepat, sehingga untuk penerapan teori ini dalam proses belajar mengajar dikelas adalah : Guru harus mengarahkan performa siswa, membaca atau mencatat sebagai perangsang siswa untuk menghafal, Dalam hal ini Guru dalam mengelola kelas dianjurkan tidak memerintahkan secara langsung, akan tetapi memberikan stimulus yang berakibat munculnya prilaku sebagai respon dari siswa.
·
Teori Operant Conditioning (Burrhus Frederic Skinner)
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Model pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini dikemukakan oleh Skinner.
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Model pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini dikemukakan oleh Skinner.
3. Hasil Analisis
·
Kondisi Belajar terdapat 2
macam, yaitu :
1. Kondisi
Eksternal
Sandra
adalah putri dari pasangan yang tidak harmonis, ayahnya menceraikan ibunya dan
pindah ke luar negeri. Sedangkan ibunya sangat sibuk dengan pekerjaannya
sebagai direktur di sebuah perusahan. Sehingga Sandra kurang perhatian dari
kedua orang tuanya, hal itu membuat Sandra menjadi anak yang nakal. Sandra pergi ke diskotik
setiap malam,
membolos sekolah, dan menghamburkan
- menghamburkan uang. Sandra adalah anak yang
mengalami broken home, hingga menyebabkan penurunan prestasi diikuti penurunan
nilai moralnya. Semenjak broken home Sandra berpenampilan yang tidak
mencerminkan seorang pelajar, seperti berambut merah, tindikan di hidung, baju
ketat, berpenampilan berantakan dan tidak sopan terhadap yang lebih tua
termasuk orang tuanya sendiri. Sandra mendapat dukungan dari luar/eksternal
dalam proses belajarnya. Sandra mendapat dukungan dari guru dan Leon salah satu
teman/ sahabat yang sangat dekat dengannya. Sandra memiliki guru yang sangat
baik dan bertanggung jawab. Gurunya pun tidak ingin mengeluarkan Sandra dari
sekolah walaupun Sandra sering melanggar peraturan hingga Sandra berubah
menjadi lebih baik. Leon seorang sahabat Sandra pun ikut serta dalam proses
belajar dan perubahan tingkah laku Sandra. Leon menjadi guru privat Sandra
hingga prestasinya meningkat dan perilakunya lebih baik. Leon juga memberikan
contoh yang baik dalam proses pembelajaran seperti melarangnya mencontek.
2. Kondisi
Internal
Seperti
ditulis sebelumnya, kondisi internal tidak banyak berpengaruh dalam teori
Behaviorisme. Semenjak bertemu dengan Leon sahabatnya, Sandra lebih termotivasi
dan berminat untuk belajar.Sandra termotivasi secara ekstrinsik, karena motivasi
tersebut datang dari Leondan pengaruh terhadap kemauannya untuk belajar.Sandra
merasa ada orang yang memperhatikannya sejak bertemu Leon, sementara ibu Sandra
sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Itu mendorongnya secara Internal untuk
melakukan proses belajar, baik akademik maupun moral. Kondisi fisik dan
kecerdasannya pun cukup baik sehingga tidak sulit bagi Sandra untuk memperoleh
hasil belajar yang baik.
BERSAMBUNG
FILE TERSUSUN RAPI FORMAT DOCX (bisa di edit)
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT

No comments:
Post a Comment