KINERJA BALAI BESAR
PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN (BBPOM) SAMARINDA DALAM PENERAPAN
QUALITY MANAGEMENT
SYSTEM (QMS)
Abstrak
Kinerja Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Samarinda dalam
Penerapan Quality Management System (QMS)
ISO 9001:2008. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi serta prosedur komunikasi informasi
dan edukasi publk termasuk peringatan publik mengenai obat dan makanan pada
Balai Besar POM Samarinda dalam penerapan
Quality Manajemen System 9001:2008. Jenis penelitian yang digunakan
dalam penulisan ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif.
Pendahuluan
Globalisasi dan informasi dalam
penguasaan terhadap informasi tidak cukup hanya sekedar menguasai, diperlukan
kecepatan dan ketepatan guna menguasai informasi yang telah usang, padahal
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat mengakibatkan
usia informasi menjadi sangat pendek, dengan kata lain informasi lama akan
diabaikan dengan adanya informasi yang lebih baru. Masukan dan kontribusi
langsung dari para pemegang peran (top
Management) yang lain, anggota masyarakat juga dapat memberikan informasi
yang sangat membantu dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi pembangunan
politik.
Dalam rangka ikut menyukseskan pelaksanaan pembangunan
dan menciptakan masyarakat yang adil dan merata, maka salah satu upaya yang
dilakukan adalah memperkuat penyelenggaraan pemerintahan daerah melalui
peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan yang profesional oleh para pegawai
yang ada, sebab pelaksanan pembangunan yang merata di seluruh wilayah Negara
Indonesia sangat dipengaruhi oleh penyelenggaraan pemerintahan itu sendiri dan
tentunya aparatur pemerintahan sebagai subjek penyelenggara pemerintahan
diperlukan perhatian yang lebih lanjut dalam peningkatan kinerjanya.
Setyawan menjelaskan bahwa ”Aparatur Pemerintah adalah pekerja yang
digaji pemerintah
melaksanakantugas-tugas teknis pemerintahan melakukan pelayanan kepada
masyarakat berdasarkan ketentuan yang berlaku” (Setyawan, 2004:169). Untuk membentuk sosok itu sebagaimana yang
disebutkan di atas, maka perlu dilaksanakan pembinaan yang baik dan teratur,
dilakukan secara terus menerus dengan berdasarkan pada perpaduan sistem
prestasi kerja dan sistem karier yang dititikberatkan pada sistem prestasi
kerja. Hal ini dimaksudkan untuk memberi peluang bagi Pegawai Negeri Sipil yang
berprestasi untuk meningkatkan kemampuannya secara profesional dan
berkompetensi secara sehat.
Dengan
adanya semangat otonomi daerah, Pemerintah Pusat telah mengeluarkan berbagai
Peraturan Perundang-undangan dalam rangka desentralisasi kepegawaian,
diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999
tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000
tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri
Sipil.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun
2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun
2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun
2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun
2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Struktural.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun
2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun
2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri
Sipil.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun
2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Kerangka Dasar Teori
Kinerja
Pengertian kinerja
Kinerja aparatur pada dasarnya
terbentuk setelah aparatur merasa adanya kepuasan, karena kebutuhannya
terpenuhi dengan kata lain apabila kebutuhan aparatur belum terpenuhi
sebagaimana mestinya maka kepuasan kerja tidak akan tercapai, dan pada
hakikatnya kinerja aparatur akan sulit terbentuk. Kinerja organisasi adalah
totalitas hasil kerja yang dicapai suatu organisasi.
Menurut Baban Sobandi dkk menjelaskan
“Kinerja merupakan sesuatu yangtelah dicapai oleh organisasi dalam kurun waktu
tertentu, baik yang terkaitdengan input, output, outcome, benefit, maupun
impact.” (Sobandi dkk, 2006:176).
Hasil kerja yang dicapai oleh aparatur
suatu instansi dalam menjalankan tugasnya dalam kurun waktu tertentu, baik yang
terkait dengan input, output, outcome, benefit, maupun impact dengan
tanggung jawab dapat mempermudah arah penataan organisasi pemerintahan. Adanya
hasil kerja yang dicapai oleh aparatur dengan penuh tanggung jawab akan
tercapai peningkatan kinerja yang efektif dan efisien.
Manfaat Penilaian Kinerja.
Beberapa manfaat penilian prestasi atau kinerja menurut
Handoko (2011:135) sebagai berikut :
1.
Perbaikan
prestasi kerja
Umpan balik pelaksanaan
kerja memungkinkan karyawan, manajer dan departemen personalia dapat
membetulkan kegiatan-kegiatan mereka untuk memperbaiki prestasi.
2.
Penyesuaian-penyesuaian
kompensasi
Evaluasi prestasi kerja
dapat membantu para pengambil keputusan dalam menentukan kenaikan upah,
pemberian bonus dan bentuk kompensasi lainnya.
3.
Keputusan-keputuan
penempatan.
Promosi biasanya didasarkan pada
prestasi kerja masa lalu atau antisipasinya. Promosi sering merupakan bentuk
penghargaan terhadap prestasi kerja masa lalu.
4.
Kebutuhan-kebutuhan
latihan dan pengembangan.
Prestasi kerja yang jelek
mungkin menunjukkan kebutuhan latihan. Demikian juga prestasi yang baik mungkin
mencerminkan potensi yang harus dikembangkan.
5.
Perencanaan
dan pengembangan karier
Umpan balik prestasi mengarahkan
keputusan-keputusan karier yaitu tentang jalur karier tertentu yang harus
diteliti.
6.
Penyimpangan-penyimpangan
proses staffing.
Prestasi kerja yang baik
atau jelek mencerminkan kekuatan atau kelemahan prosedur staffing departemen personalia.
7.
Ketidak
akuratan informasional
Prestasi kerja yang jelek mungkin menunjukkan kesalahan-kesalahan
dalam informasi analisis jabatan, rencana-rencana sumber daya manusia, atau
komponen-komponen lain sistem informasi manajemen personalia.
8.
Kesalahan-kesalahan
desain kerja.
Prestasi kerja yang jelek mungkin
merupakan suatu tanda kesalahan dalam desain pekerjaan.Penilaian prestasi kerja
membantu diagnosa kesalahan-kesalahan tersebut.
9.
Kesempatan
kerja yang adil
Penilaian prestasi kerja secara akurat
akan menjamin keputusan-keputusan penempatan internal diambil tanpa
diskriminasi.
10.Tantangan-tantangan
eksternal
Kadang-kadang prestasi kerja dipengaruhi
oleh faktor-faktor diluar lingkungan kerja, seperti keluarga, kesehatan,
kondisi finansial atau masalah-masalah pribadi lainnya.
Kegiatan
penilaian prestasi kerja dapat menjadi bahan masukan bagi manajer dalam
mengambil keputusan tentang kebijaksanaan selanjutnya dan dalam memberikan
umpan balik kepada karyawan berkaitan dengan kegiatan atau tugas mereka.
Metode-metode penilaian kinerja
Menurut handoko (2011:142) terdapat beberapa metode
penilaian kinerja, antara lain :
1.
Metode
penilaian berorientasi pada masa lalu:
a.
Rating scale
Pada
metode ini, evaluasi subyektif dilakukan oleh penilai terhadap prestasi kerja
karyawan dengan skala tertentu dari rendah sampai tinggi.
b.
Checklist
Dalam
metode ini penilai tinggal memilih kalimat-kalimat atau kata kata yang
menggambarkan prestasi kerja dan karakteristik-karakteristik karyawan.
c.
Metode
peristiwa kritis
Metode
penilaian ini didasarkan kepada catatan-catatan penilai yang menggambarkan
perilaku karyawan sangat baik atau dangat jelek kaitannya dengan pelaksanaan
kerja.
d.
Metode
peninjauan lapangan.
Metode
ini dilakukan dengan wakil ahli departemen personalia turun ke lapangan dan
membantu para penyelia dalam menilai mereka.
e.
Tes dan
observasi prestasi kerja.
Bila
jumlah pekerjaan terbatas, penilaian prestasi kerja biasa didasarkan pada tes
pengetahuan dan ketrampilan.Tes mungkin tertulis atau peragaan ketrampilan.
f.
Metode-metode
evaluasi kelompok
Penilaian-penilaian
ini dilakukan oleh penyelia atau atasan langsung.Metode-metode penilaian
kelompok berguna untuk pengambilan keputusan kenaikan upah, promosi dan
berbagai bentuk penghargaan organisasional karena dapat menghasilkan ranking
karyawan dari yang terbaik sampai terjelek.
2. Metode penilaian berorientasi pada masa depan:
a. Penilaian diri
Teknik evaluasi ini berguna bila tujuan evaluasi adalah untuk
melanjutkan pengembangan diri.
b. Penilaian psikologis.
Penilaian ini pada umumnya terdiri dari wawancara mendalam, tes-tes
psikologis, diskusi dengan atasan langsung, dan review evaluasi-evaluasi
lainnya
c. Pendekatan Management By Object (MBO)
Inti pendekatan ini adalah bahwa setiap karyawan dan penyelia secara
bersama menetapkan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran pelaksanaan kerja diwaktu
yang akan datang.
d. Teknik pusat penilaian
Metode ini adalah suatu bentuk penilaian karyawan yang distandarisasikan
dimana tergantung pada berbagai tipe penilaian dari penilai.
Kualitas Pelayanan
Pengertian Pelayanan
Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian
aktivitas yang bersifat kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi akibat
adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang
disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan
permasalahan konsumen/pelanggan (Ratminto dan Atik, 2005:2). Sedangkan menurut Simamora (2008:172)
menyatakan bahwa pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan
suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
mengakibatkan kepemilikan apapun.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Keith Davis (dalam Mangkunegara,
2005:67) menjelaskan factor yangmempengaruhi kinerja sebagai berikut :
1. Human
Performance =
Ability + Motivation
2. Motivation =
Attitude + Situation
3. Ability =
Knowledge + Skill
Dengan demikian dapatlah dikatakan
bahwa untuk melihat kemampuan seseorang, kita harus memperhatikan pengetahuan
dan keterampilannya dalam melaksanakan pekerjaan yang diembannya. Sedangkan untuk
mengetahui motivasi seseorang dapat dilakukan melalui sikapnya dalam menghadapi
situasi kerja.
Lebih lanjut Mangkunegara (2005:67-68)
menjelaskan kedua faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja tersebut sebagai
berikut :
1 Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan
potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge
+ skill). Artinya pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120)
dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan
pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang
diharapkan. Oleh kerna itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang
sesuai dengan keahliannya (the right man
in the place, the right man on the right job).
2 Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam
menghadapi situasi (situation) kerja.
Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk
mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).
Manfaat Penilaian Kinerja.
Beberapa manfaat penilian prestasi atau kinerja menurut
Handoko (2011:135) sebagai berikut :
10.
Perbaikan
prestasi kerja
Umpan balik pelaksanaan
kerja memungkinkan karyawan, manajer dan departemen personalia dapat
membetulkan kegiatan-kegiatan mereka untuk memperbaiki prestasi.
BERSAMBUNG
FILE TERSUSUN RAPI FORMAT DOCX (bisa di edit)
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT

No comments:
Post a Comment