618484 ke duanya

EKONOMI POLITIK DAN KELEMBAGAAN

6 lembar



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah kelemahan dari pendekatan ekonomi murni?
2.      Apakah perbedaan antara ekonomi murni dengan ekonomi politik kelembagaan?
3.      Siapa sajakah tokoh ekonomi politik kelembagaan?
4.      Apakah peran transakai kelembagaan?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan tentang kelemahan pendekatan ekonomi murni
2.      Menjelaskan tentang perbedaan antara ekonomi murni dengan ekonomi politik kelembagaan
3.      Menjelasakan tentang tokoh ekonomi politik kelembagaan
4.      Menjelaskan tentang peran transaksi kelembagaan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kelemahan Pendekatan Ekonomi Murni
Pendekatan ekonomi murni adalah adanya kelangkaan dan pilihan. Model pendekatan ini tidak mempertimbangkan faktor motivasi yang ada dibelakang aktor yang terkait dalam proses atau peristiwa tertentu. Motivasi diasumsikan cateris paribus, dan semua faktor di luar bidang ilmu ekonomi dianggap telah given. Dengan penjelasan yang terlalu menyederhanakan persoalan, Sehingga konsep-konsep ilmu ekonomi politik yang dikembangkan oleh kaum Klasik dan Neo Klasik mengabaikan faktor-faktor lain yang sebenarnya ikut menentukan bagaimana kegiatan ekonomi itu dilakukan.
Dari kelemahan model pendekatan yang dikembangkan oleh Klasik dan Neoklasik tersebut mendorong pakar-pakar sosial politik untuk mengembangkan paradigma lain yang disebut pendekatan ekonomi politik kelembagaan. Ekonomi politik kelembagaan dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pemecahan masalah politik dan masalah ekonomi.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar persoalan ekonomi maupun persoalan politik justru berada di luar domain ekonomi dan politik itu sendiri, yaitu dalam kelembagaan yang mengatur proses kerja suatu perekonomian maupun proses-proses politik.

 
C.    Tokoh-tokoh Ekonomi Politik Kelembagaan
Veblen (Peran Nilai dan Norma-norma)
Bapak Ekonomi Politik Kelembagaan adalah Thostein Veblen (1857-1929), yang menjelaskan bahwa kelembagaan sebagai norma-norma yang membentuk perilaku masyarakat dalam bertindak, baik dalam perilaku konsumsi maupun produksi. Kritik yang diberikan oleh Veblen terhadap teori ekonomi Klasik dan Neoklasik adalah bahwa ketika orang yang seharusnya bertindak rasional dalam mengkonsumsi, dengan memilih alternatif terbaik untuk mamaksimisasi utilitas, maka Veblen dalam The Theory Of Leisure Class (1899), menggambarkan bahwa masyarakat Amerika yang materialistis, cenderung melakukan perilaku konsumsi yang tidak wajar (conspicius consumption). Menurut Veblen bahwa keseimbangan ekonomi adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi.
Veblen dalam bukunya Absentee Ownership and Business Enterprise (1923), yang membahas perilaku pengusaha dalam mencari laba. Dijelaskan oleh Veblen bahwa dulu laba diperoleh dengan kerja keras, akan tetapi saat ini banyak diperoleh lewat trik-trik licik. Dulu investasi masuk ke “production for use”, ke sektor riil sekarang investasi masuk ke pasar modal dengan pola“production for profit”.
Production for profit inilah yang disebut oleh Veblen sebagai Absentee Ownership, dengan perilaku yang licik dalam upaya memperoleh laba yang sebesar-besarnya dengan menjadi predator yang mematikan lawan. Sifat licik tersebut ditunjukan dengan “engan mengikuti aturan permainan” melainkan lebih pada usaha untuk “mempermainkan peraturan”. Beberapa contoh kasus yang diberikan oleh Veblen adalah, pengusaha jalur kereta api di Amerika Serikat tahun 30-an, George Soros dengan Quantum Fund-nya yang melululantahkan pasar modal negara-negara Asia Timur.







BERSAMBUNG






No comments:

Post a Comment

close