618484 ke duanya

MATERI KEPEMIMPINAN

( 10 halaman )



Kepemimpinan merupakan suatu studi yang seharusnya mampu dipahami oleh seorang pemimpin dalam menggerakkan roda organisasinya. Dimulai dari tahapan pengertian muncullah konsep kepemimpinan yang berisikan unsur – unsur, fungsi – fungsi dan berbagai macam gaya serta tipe kepemimpinan yang mampu dipilih dan diaplikasikan oleh seorang pemimpin. Akan tetapi perlu disadari oleh seorang pemimpin dan orang yang ingin menjadi seorang pemimpin bahwa pada hakekatnya menjadi top leadher tidak cukup memahami hal tersebut diatas. Ada lagi banyak aspek – aspek penting yang dijadikan pertimbangan – pertimbangan bagi seorang pemimpin khususnya dalam mengambil suatu keputusan. Berikut tahapan yang bisa dijadikan pedoman ataupun langkah yang efektif bagi seorang pemimpin dan orang yang ingin menjadi seorang pemimpin :

I. Pengertian Kepemimpinan.
James A.F. Stoner dan Charles Wankel (1986; p.445) yang mengutip pendapat Churchil mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan dan ketrampilan mengarahkan, merupakan faktor penting dalam efektifitas manajer/pimpinan.
Stephen P Robbins (1991 : p.354) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok kearah pencapaian tujuan.
Robert G Owens (1995: p. 132) mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu interaksi antar suatu pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin.
Gibson dkk (1997 : p.334) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah upaya menggunakan berbagai jenis pengaruh yang bukan paksaan untuk memotivasi anggota organisasi agar mencapai tujuan tertentu.
Harold Koontz, Cyril O’Donnel dan Heinz Weihrich mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses mempengaruhi orang (anggota organisasi) sehingga akan berusaha mencapai tujuan organisasi dengan kemauan dan antusiasme yang tinggi.
George R. Terry di dalam terjemahan Winardi (1985 : h.343) mengatakan kepemimpinan adalah hubungan dimana seseorang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerjasama secara suka rela dalam mengerjakan tugas untuk mencapai hal yang diinginkan pemimpin tersebut.
Kepemimpinan yang efektif adalah kemampuan/ kecerdasan mendorong sejumlah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama. Sondang P. Siagian (1994, hal 36) mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan inti manajemen yakni sebagai motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat dalam organisasi. Sukses tidaknya suatu organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan tergantung atas cara-cara memimpin yang dipraktekkan oleh seorang pemimpin.

II. Unsur – unsur Kepemimpinan :
Dari beberapa pengertian diatas dapat diidentifikasi unsur-unsur utama sebagai esensi kepemimpinan. Unsur-unsur itu adalah :
1.   Unsur pemimpin atau orang yang mempengaruhi.
2.   Unsur orang yang dipimpin sebagai pihak yang dipengaruhi.
3.       Unsur interaksi atau kegiatan dan proses mempengaruhi.
4.       Unsur tujuan yang hendak dicapai.
5.       Unsur perilaku/kegiatan yang dilakukan sebagai hasil mempengaruhi.
            Pemimpin dalam konteks struktural adalah pemimpin formal diantaranya terdiri dari para manajer yang menjalankan kegiatan manajerial di dalam unit kerja organisasinya. Pemimpin dalam konteks struktural diangkat secara resmi oleh pihak yang berwenang dengan mengeluarkan surat keputusan pengangkatannya. Para manajer sebagai pemimpin lebih banyak dikenal di lingkungan organisasi yang disebut perusahaan dan industri atau badan usaha termasuk koperasi.

III. Fungsi-Fungsi Kepemimpinan.
Strategi utama dalam kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin menjalankan fungsi sebagai anggota organisasi. Dengan strategi ini pemimpin harus mampu menempatkan diri sebagai orang dalam organisasi (in group), dan tidak dirasakan sebagti orang luar (out group). Strategi utam ini hanya akan dapat diwujdkan apabila pemimpin dalam menjalankan interaksi social dengan anggota kelompoknya, menunjukkan kemampuan memahami, memperhatikan dan terlibat dalam masalah-masalah dan kebutuhan organisasi dan anggotanya. Untuk itu pemimpin harus memiliki kemampuan mengimplementsikan fungsi-fungsi kepemimpinan agar mendapat dukungan, tanpa kehilangan rasa hormat, rasa segan dan kepatuhan dari semua anggota organisasi.

a. Fungsi Pengambil Keputusan.
            Fungsi pengambilan keputusan sebagi strategi kepemimpinan sangat penting peranannya, karena tanpa kemampuan dan keberanian, pemimpin tidak mungkin menggerakkan anggota organisasinya. Pada tahap berikutnya pemimpin harus mampu mengkomunikasikan keputusan yang telah ditetapkannya pada anggota organisasi untuk dilaksanakan. Disamping itu seorang pemimpin memerlukan kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial/ emosional dalam mengambil suatu keputusan dalam organisasi. Hal ini dimungkin jika suatu organisasi menghadapi pesaing-pesaing bisnis yang tangguh.
            Dalam fungsi pengambilan keputusan , seorang pemimpin perlu mengikut sertakan anggota-anggota organisasi sesuai posisi dan tanggung jawabnya masing-masing. Pengikutsertaan dapat dilakukan dengan memberi masukan, saran, gagasan baik dalam maupun luar rapat.
            Fungsi pengambilan akan lebih efektif apabila pemimpin mampu menciptakan dan mengembangkan Sistem Informasi Manajemen (SIM). Dengan adanya SIM diharapkan keputusan yang diambil akan lebih akurat karena didasrkan pada informasi yang bersifat terkini (up to date).

b. Fungsi Instruktif.
            Setiap pimpinan harus memahami bahwa didalam posisi dan perannya secara implicit terdapat kekuasaan dan wewenang serta tanggung jawab, yang harus dijalankan secara efektif. Salah satu diantaranya adalah kekuasaan atau wewenang memerintahkan anggotanya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu tugas dan tanggung jawab sebagai anggota organisasi. Dengan kata lain fungsi instruktif tidak harus dijalankan secara otoriter, yang dapat berdampak pemimpin kehilangan kewibawaannya karena instruksi ditantang atau ditolak/ tidak dilaksanakan oleh anggota organisasi.
            Perintah dari seorang pemimpin harus diampaikan secara jelas, baik mengenai isinya maupun dari segi bahasanya yang harus sesuai dengan tingkat pendidikan anggota yang menerima perintah. Dalam memberikan perintah sebaiknya disertai penjelasan kepada anggota organisasi yang akan melakukannya, tentang dampak atau akibat yang akan terjadi apabila perintah dikerjakan dengan salah/keliru sehingga pelaksanaan perintah akan lebih hati-hati dan teliti.

c. Fungsi Konsultatif.
            Untuk lebih mengefektifkan organisasi, setiap pemimpin harus siap dan memberika kesempatan pada anggota organisasi untuk berkonsultasi dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan pekerjaan. Fungsi konsultatif dapat juga berarti anggota organisasi diberi kesempatan menyampaikan kritik, saran, informasi dan pendapat yang berhubungan dengan pekerjaan dan organisasi. Pelaksanaan fungsi konsultatif dapat digunakan untuk menghimpun informasi-informasi baru yang berguna untuk melakukan perbaikan kepemimpinan, terutama untuk pengambilan keputusan.

d. Fungsi Partisipatif.
            Dalam Fungsi partisipatif sebagai strategi kepemimpinan untuk mengefektifkan organisasi terdapat dua hal yang sangat diperlukan. Yang pertama adalah kemampuan pemimpin mengikutsertakan anggota organisasi sesuai dengan posisi dan kewenangannya agar berpartisipasiaktif dalam berbagi kegiatan khususnya pengambilan keputusan. Dan yang kedua adalah kesediaan pimpinan dan pimpinan-pimpinan dibawahnya untuk berpartisipasi dalam membantu anggota organisasi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi khususnya pekerjaan.

e. Fungsi Delegatif.
            Dalam melaksanakan kepemimpinan untuk mengefektifkan organisasi, setiap pemimpin memerlukan dan memiliki kekuasaan/ kewenangan dan tanggungjawab yang harus diimplementasikan secara baik dan benar. Dalam menggunakan kekuasaan dan tanggung jawabnya, pemimpin harus mampu mengatur atau membuat aturan-aturan dan berusaha menegakkan dan mematuhi aturan-aturan dan berusaha menegakkan dan mematuhi aturan-aturan itu, karena merupakan bagian yang melekat secara implisit pada diri dan jabatannya. Dalam mempengaruhi orang lain agar mematuhi aturan-aturan itu, pemimpin harus lebih dahulu menampilkan diri sebagai anggota organisasi yang kepatuhannya paling prima. Dengan kata lain pemimpin harus mampu menjadi suri tauladan dalam mematuhi peratuar yang dibuat atas dasar kekuasaan yang dimilikinya. Salah satu aturan yang sangat pentingadalah pembidangan dan pembagian volume kerja sesuai struktur organisasi.
            Pada kenyataannya pelimpahan wewenang dan tanggungjawab sangat penting bagi pemimpin puncak dan pemimpin tingkat atas, dan sangat bermanfaat serta penting artinya bagi pimpinan tingkat menengah dan bawah.

IV. Tipe dan Gaya Kepemimpinan.
            Kepemimpinan dalam organisasi adalah merupakan suatu proses yang rumit dan vital. Hal ini mungkin merupakan faktor yang benar-benar dapat membedakan antara sejumlah pemimpin yang lebih berhasil, sedangkan yang lainnya gagal didalam memimpin bisnis. Satu pendekatan awal dalam studi kepemimpinanadalah riset terhadap sifat-sifat yang esensiil bagi kepemimpinan yang efektif dan pendekatan berikutnya adalah menekankan pada perilaku pemimpin dari pada sifat-sifat pemimpin (Wexley dan Yukl, 1992). Telah banyak upaya untuk menjelaskan dan membuat kategori gaya kepemimpinan yang berbeda tetapi semuanya kembali pada mutu setiap orang sebagai pemimpin. Di dalam istilah praktis, siapapun yang menduduki peran pemimpin apakah mereka memiliki atau tidak memiliki perangai yang diinginkan, yang penting adalah dapat mencoba untuk bertindak secara efektif sebagai seorang pemimpin.
            Tipe kepemimpinan dapat diartikan sebagai bentuk / jenis kepemimpinan, yang didalamnya diimplementasikan satu atau lebih gaya kepemimpinan sebagai pendukungnya.
            Gaya kepemimipinan adalah suatu cara pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya. Secara relative ada tiga macam tipe kepemimpinan yang berbeda yaitu : Otokratis, Demokratis, Bebas/ Laissez-Faire (Reksohadiprojo dan Handoko,1995). Ketiga tipe kepemimpinan tersebut dijelaskan, dibawah ini :

Tipe Otokratis :
1. Anggota organisasi cenderung pasif, bekerja menunggu perintah dan tidak berani mengambil keputusan meski masalah yang dihadapi kecil/ sepele.
2. Mematikan kreativitas, inisiatif sehingga organisasi tidak berkembang secara dinamis.
3. Pemimpin tidak menyukai perubahan, perbaikan dan perkembangan organisasi.
4. Disiplin diterapkan secara kaku dan ketat.
5. Pemimpin cenderung bersifat pribadi dan semua keputusan terpusat pada pemimpin.
            Tipe kepemimpinan otoriter ini cenderung diwujudkan melalui gaya pemimpin yang berorientasi pada tugas dan hasil yang secara ekstrim harus sesuai dengan keinginan pemimpin dan tidak berorientasi pada anggota organisasi sejalan dengan teori X yang beranggapan bahwa manusia pada dasarnya meiliki sifat malas, penakut dan tidak bertanggungjawab.
            Berdasarkan uraian diatas tipe pemimpin yang otoriter terdiri dari beberapa gaya kepemimpinan antara lain :
a. Gaya Kepemimpinan Diktatoris (dictator).
     Hampir mirip dengan gaya kepemimpinan yang otokrat akan tetapi gaya kepemimpinan ini lebih cenderung kejam dan sadis. Beberapa perilaku atau gaya kepemimpinan Diktator antara lain :
- Berperilaku sebagai penguasa tunggal yang tidak dapat diganti karena dirinya diciptakan untuk berkuasa.
- Setiap kehendak atau kemauan pemimpin diktatoris harus terlaksana.
- Orientasi kerjanya hanya pada hasil tidak perduli bagaimana cara mencapainya.
- Ucapannya diberlakukan sebagi peraturan yang tidak bisa dibantah tapi harus dilakukan.
- Adanya ancaman yang hukuman yang berat bagi yang melanggar peraturannya.
b. Gaya Kepemimpinan Otokrat (autocrat) yang ditampilkan sebagai berikut :
-      Berorientasi pada pelaksanaan tugas.
- Pelaksanaan tugas tidak boleh menyimpang dari instruksi pemimpin.
- Tidak ada kesempatan bagi anggota organisasi untuk menyampaikan saran, pendapat, kritik.
- Tidak berorientasi pada hub. manusiawi dengan anggota organisasi.
- Pemimpin bertolak pada prinsip bahwa “manusia lebih suka diarahkan tanpa memikul tanggungjawab”.
c. Gaya Kepemimpinan Diserter (pembelot).
Gaya ini menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :
- Pemimpin menghindari tugas dan tanggungjawab mempengaruhi dan mengarahkan anggoita organisasi daalam mencapai tujuan.
- Pemimpin keras dalam menggunakan kekuasaan pada anggota organisasi yang tidak mengikuti kemauannya.
- Pemimpin senang menyendiri dan tidak senang bergaul dan cenderuing tertutup pada anggota organisasinya.
- Pemimpin mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan.
- Pemimpin akan bekerja gigih untuk pekerjaan yang menguntungkan tapi sebaliknya atau dengan kata lain pemimpin tidak berorientasi pada hasil.
d. Gaya Kepemimpinan Missionary (pelindung dan penyelamat).
Gaya ini menunjukkan cirri-ciri sebagai berikut :
- Pemimpin mengutamakan orientasi hubungan dengan anggota orgaisasi. Perilaku ini didasari asumsi bahwa hub. manusiawi yang efektif sangat penting dalam membujuk anggota organisasi agar melakukan tindakan sesuai keinginan pemimpin. Dengan kata lain pemimpin menyelubungi pemaksaan kehendak melalui penciptaan kondisi yang kondusif.
- Pemimpin mencegah pertentangan atau konflik baik itu dengan orang lain atau anggota organisasi.
- Pengawasan dijadikan sarana unutuk memberi kesan bahwa pimpinan menaruh perhatian pada anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan, instruksi dan kebijakannya.
e. Gaya Kepemimpinan Kompromi (Compromiser).
Gaya kepemimpinan ini menunjukkan karakter sebagai berikut :
- Pemimpin mempertahankan kekuasaannya tidak berorientasi pada anggota organisasi tapi pda pimpinan atasannya yang berpengaruh dan menetukan jabatan kepemimpinannya.
- Mengikutsertakan bawahan dalam mengambil keputusan tetapi bukan untuk memberi kesempatan menyampaikan gagasan atau kretivitas tapi untuk meyakinkan bahwa rencana keputusan tersebutu dapat diterima dan dilaksanakan.
- Tidak tertarik pada pengembangan organisasi.
- Memperalat bawahan unutuk mencapai tujuan tertentu tapi tidak menghiraukan kondisi bawahannya.
f. Gaya Kepemimpinan Otokratik Lunak (Benevolent Autocratic)
Gaya otokratik lunak menunjukkn cirri-ciri sebagai berikut :
- Pemimpin berorientasi pada hasil, dengan dimanipulasi berorientasi pada anggota organisasi dalam kadar yang rendah.
- Instruksi yang diberikan oleh pemimpin dapat meyakinkan anggota organisasi bahwa pelaksanaannya adalah untuk kepentingan organisasi.
- Peraturan dibuat seolh-olah untuk kepentingan organisasi padahal sebenarnya peraturan itu hanya untuk mempertahankan kekuasaan pemimpin.
- Pemimpin cenderung kurang percaya diri dan memilih orang-orang kepercayaan (kroni).
- Sanksi/ hukuman merupakan senjata dalam menuntut kepatuhan anggota organisasi/.

Tipe Kepemimpinan Demokratis :









BERSAMBUNG






No comments:

Post a Comment

close