BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kurikulum merupakan bagian dari suatu proses pendidikan.
Secara sederhana, kurikulum dapat dimengerti sebagai salah satu kumpulan atau
daftar pelajaran yang akan dianjurkan kepada peserta didik. Karena itu pendidikan
tanpa kurikulum akan terlihat tidak
teratur.
Kurikulum
merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dan sekaligus
digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada
berbagai jenis dan tingkatan sekolah. Kurikulum menjadi dasar dan sudut pandang
hidup suatu bangsa, akan diarahkan kemana dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa
ini di masa depan, semua itu ditentukan dan digambarkan dalam suatu kurikulum
pendidikan. Warna dan ciri khas tiap kurikulum menunjukan kurikulum berusaha
menghadirkan sosok peserta didik yang paling pas dengan zamanya.
Kurikulum harus dinamis dan terus berkembang untuk
menyesuaikan berbagai perkembangan yang terjadi pada masyarakat dan harus
menetapkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Perubahan kurikulum dari
waktu ke waktu bukan tanpa alasan dan landasan yang tidak jelas, sebab
perubahan ini dilandasi oleh keinginan untuk terus memperbaiki, mengembangkan,
dan meningkatkan kualitas sistem pendidikan nasional.
Sudah menjadi umum bahwa kemakmuran suatu bangsa
berkaitan erat dengan kualitas atau mutu pendidikan bangsa yang bersangkutan.
Peningkatan mutu pendidikan melalui standarisasi dan profesionalisasi yang
sedang dilakuakan, menuntut pemahaman terhadap perubahan yang terjadi dalam
berbagai komponen sistem pendidikan. Namun demikian, berbagai indikator mutu
pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti.
Mutu pendidikan yang baik akan melahirkan generasi muda
yang baik pula. Bila generasi muda memiliki pendidik yang baik, mereka bisa membangun
bangsa dengan baik dan tidak ketinggalan zaman. Pendidikan sangat diperlukan untuk
kemajuan suatu bangsa. Bila bangsa kita memiliki mutu pendidikan yang baik,
perekonomian dan segala aspek pemerintahan bisa dijalankan dengan baik. Namun
bila generasi penerus pendidikan tidak baik, negara kita bisa dijajah lagi oleh
bangsa lain.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian kurikulum ?
2.
Apa peran
kurikulum dalam sistem pendidikan ?
3.
Bagaimana
peningkatan mutu kurikulum SD ?
BAB
II
PEMBAHASAAN
A.
Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum pertama kali muncul dikamus Wesber tahun
1856. Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga. Secara
etimologis berasal dari bahasa yunani yaitu curriculum
dari asal kata curir yang artinya
pelari dan curere yang artinya tempat
berpacu. Jadi istilah kurikulum itu mengandung pengertian suatu jarak yang
harus di tempuh oleh pelari dari garis start
sampai finish.
Selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia
pendidikan. Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang
kurikulum. Namun demikian, dalam penafsiran yang berbeda itu, ada juga
kesamaannya. Kesamaan tersebut adalah, bahwa kurikulum berhubungan erat dengan
usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Kurikulum dalam pendidikan islam dikenal dengan kata-kata
“Manhaj” yang berarti jalan yang
terang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta didik.
Secara terminologi, istilah kurikulum dalam dunia
pendidikan ialah sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau
diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat
dipertanggung jawabkan.
Dalam pengertian yang sempit, kurikulum merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiataan belajar mengajar di
sekolah.
Dalam pengertian yang lebih luas, kurikulum merupakan
segala kegiatan yang telah dirancang oleh lembaga pendidikan untuk di
sajikan kepada peserta didik untuk
mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum dalam pengertian fungsianya yaitu kegiatan yang
mencakup berbagai rencana strategi pembelajaran, pengaturan-pengaturan program
agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan
agar tercapainya tujuan yang diinginkan.
Para ahli mengartikan kurikulum sebagai berikut :
1.
Menurut Langgulung
“Kurikulum secara luas adalah sejumlah pengalaman
pendidikan, kebudayaan, sosial, keolahragaan, dan kesenian yang disediakan oleh
sekolah bagi anak didik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud agar
peserta didik berkembang dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan
pendidikan”.
“Kurikulum secara sempit adalah serangkaian kegiatan
belajar mengajar yang direncanakan dan diprogramkan secara terperinci bagi
peserta didik di bawah bimbingan sekolah baik di luar maupun di dalam sekolah
untuk mencapai tujuan”.
2.
Menurut Nasution
“Kurikulum
adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar dibawah
bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf
pengajarnya”.
3.
Menurut Murray Print (1993)
“Kurikulum adalah sebuah perencanaan pengalaman belajar,
program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta
hasil dari implementasi dokumen yang telah disusun”.
4.
Menurut Grayson
(1978)
“Kurikulum
adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out-
comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran”.
5.
Menurut
John Dewey 1902;5
“Kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah
dengan mengambil kiranya kandungan dari masa lampau hingga masa kini.
Pembentukan kurikulum menekankan kepentingan dan keperluan masyarakat”.
6.
Menurut Soedijarto
“Kurikulum adalah segala pengalaman
dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh siswa
atau mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi
suatu lembaga pendidikan”.
7.
Menurut Saylor, Alexander,
& Lewis (1981)
“Kurikulum adalah sebagai
mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik, merupakan konsep
kurikulum yang sampai saat ini banyak mewarnai teori-teori dan praktik
pendidikan”.
8.
Menurut B. Ragan
“Kurikulum adalah semua pengalaman
anak dibawah tanggung jawab sekolah”.
9.
Menurut Donald E.
Orlosky & B. Othanel smith (1978) & Peter F. Oliva (1982)
“Menyatakan bahwa
kurikulum pada dasarnya adalah suatu perencanaan atau program pengalamaan siswa
yang di arahkan sekolah”.
10.
Menurut Hasan
“Kurikulum bersifat fleksibilitas
mengandung dua posisi. Pada posisi pertama berhubungan dengan fleksibilitas
sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat. Dengan demikian, pada posisi
teoritik yang harus di kembangkan dalam kurikulum sebagai rencana. Pengertian
kedua yaitu sebagai kaidah pengembang kurikulum. Terdapatnya posisi pengembang
ini karena adanya perubahan pada pemikiran kependidikan atau pelatihan”.
5
Jadi, kurikulum itu merupakan suatu
usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar
pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untuk
mencapai suatu tujuan. Pengertian kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata
pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar siswa saja tetapi segala hal yang
berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak sesuai dengan tujuan
pendidikan yang diharapkan.
B.
Peran Kurikulum
dalam Sistem Pendidikan
Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, paling tidak
kurikulum memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, peranan kreatif, serta
peran kritis dan evaluatif. (Hamalik, 1990).
1.
Peranan Konservatif
Salah satu tugas dan tanggung jawab sekolah sebagai suatu lembaga
pendidikan adalah mewariskan nilai-nilai dan budaya masyarakat kepada generasi
muda yakni siswa. Siswa perlu memahami dan menyadari norma-norma dan pandangan
hidup masyarakatnya, sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka dapat
menjunjung tinggi dan berperilaku sesuai dengan norma-norma tersebut.
Peran konservatif kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya
sebagai warisan masa lalu. Dikaitkan dengan era globalisasi sebagai akibat kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memungkinkan mudahnya pengaruh budaya
asing menggerogoti budaya lokal, maka peran konservatif dalam kurikulum
memiliki arti yang sangat penting. Melalui peran konservatifnya, kurikulum
berperan dalam menangkal berbagai pengaruh yang dapat merusak nilai-nilai luhur
masyarakat, sehingga identitas masyarakat akan terpelihara dengan baik.
2.
Peran Kreatif
Ternyata tugas dan tanggung jawab sekolah tidak hanya sebatas mewariskan
nilai-nilai lama. Sekolah memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal
baru sesuai dengan tuntutan zaman. Sebab pada kenyataannya masyarakat tidak
bersifat statis, akan tetapi dinamis yang selalu mengalami perubahan. Dalam
rangka inilah kurikulum memiliki peran kreatif. Kurikulum harus mampu menjawab
setiap tantangan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang cepat
berubah.
Dalam peran kreatifnya, kurikulum harus mengandung hal-hal baru sehingga
dapat membantu siswa untuk dapat mengembangakan setiap potensi yang dimilikinya
agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat yang senantiasa
bergerak maju secara dinamis. Kurikulum harus berperan kreatif, sebab manakala
kurikulum tidak mengandung unsur-unsur baru maka pendidikan selamanya akan
tertinggal, yang berarti apa yang diberikan di sekolah pada akhirnya akan
kurang bermakna, karena tidak relevan lagi dengan kebutuhan dan tuntutan sosial
masyarakat.
3.
Peran kritis dan Evaluatif
Tidak setiap nilai dan
budaya lama harus tetap di pertahankan, sebab kadang-kadang nilai dan budaya
lama itu sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat, demikian
juga adakalanya nilai dan budaya baru yang mana yang harus dimiliki anak didik.
Dalam rangka inilah peran kritis dan evaluatif kurikulum diperlukan. Kurikulum
harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang dianggap
bermanfaat untuk kehidupan anak didik.BERSAMBUNG
FILE TERSUSUN RAPI FORMAT DOCX (bisa di edit)
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT
silahkan sms langsung, file akan dikirim via email
TERIMAKASIH .............SEMOGA BERMANFAAT

No comments:
Post a Comment